Kiai Musta’in Syafi’i: Assalamu’alaikum Lebih Bermakna dari Hallo

Way Kanan, Umat Islam memiliki salam khas, sunah diucapkan namun wajib dijawab, yakni Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam tersebut memiliki arti positif: semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa, sehingga tidak pantas umat Islam menggantinya dengan kata “hallo”.

“Jangan ragu mengucapkan kalimat tersebut  (Assalamu’alaikum) saat menerima panggilan masuk dari handphone karena salam tersebut mendoakan selamat dan sebaliknya, yang menjawab mendoakan selamat,” ujar salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Dr KH Ahmad Musta’in Syafi’i, MAg, di Kasui, Way Kanan, Lampung, Rabu (27/5).

“Mungkin ditakdirkan celaka, namun karena mengucapkan Assalamu’alaikum menjadi sangat mungkin Allah menurunkan keselamatan. Kalau hallo, apa makna dan manfaatnya?” sambungnya.

KH Mustain pada Pengajian Akbar Dalam Rangka Isro dan Mir’aj dan Peresmian Mushola Al Ikhlas Lingkungan 1 Kelurahan Kasui itu lalu menambahkan, khusnul khotimah pun bisa diraih dengan salam.

Ia lalu mengisahkan kisah Baginda Rasul Muhammad SAW saat mengucap salam dan ketuk pintu tiga kali di rumah salah seorang sahabat namun tidak juga dibuka. Karena itu Nabi Muhammad SAW beranjak pergi. Namun setelah sesampai di pagar dikejar dan dipersilakan pemilik rumah untuk masuk.

“Saat ditanya Nabi Muhammad mengapa salam demi salam tidak dijawab, sahabat tersebut menjelaskan jika tiga kali juga menjawabnya dengan lirih karena ingin terus didoakan selamat oleh Baginda Rasul,” ujarnya.

Ia lalu mengingatkan, bagi tamu yang berkunjung namun tiga kali salam dan ketuk pintu tidak ada jawaban maka haram jika melakukan operasi. “Lubang kunci sampai jendela diintip, tidak boleh semacam itu. Haram dilakukan,” paparnya.

Menurut dia pula, dititipi salam itu wajib disampaikan, namun tanpa Assalamu’alaikum sama dengan barang dititipkan tidak ada. “Tapi ada salam dilarang diucapkan. Misalnya saat ada acara makan bersama selesai tahlilan. Jika ada orang datang terlambat mengucapkan salam saat puluhan orang menikmati jamuan makan bersama menurut fiqih tidak boleh mengucapkan Assalamu’alaikum,” kata dia lagi.

Larangan mengucap salam lain ialah yang berpotensi menimbulkan fitnah. Semisal ada perempuan, mantan pacar sudah bersuami berpapasan di jalan, maka tidak boleh mengucap salam kepada perempuan tersebut. “Bagaimana perasaan suaminya jika yang diberi salam istrinya saja? Itu tidak boleh dilakukan karena bisa menimbulkan pertengkaran,” ujar KH Mustain menjelaskan.

Hadir dalam pengajian dihadiri kisaran 1.000 orang itu Lurah Kasui Pasar Sapriadi Wijaya, Ketua Yayasan Shuffah Blambangan Umpu Khairul Huda, Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda dan Ketua PC GP Ansor Gatot Arifianto.

“Penyampaian beliau membumi alias mudah dicerna. Masyarakat awam butuh penceramah yang piawai menyampaikan hal-hal bermanfaat terkait ibadah dengan mudah tanpa berbelit-belit,” ujar Gatot menambahkan. (Red: Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: