Kiai Nawawi Abdul Jalil Sidogiri

Sejak tahun 2005, KH Ahmad Nawawi Abdul Jalil melanjutkan kepemimpinan pondok pesantren Sidogiri, Kraton, Pasuruan, Jawa Timur. Ia menggantikan pengasuh sebelumnya KH Abdul Alim bin KH Abdul Jalil yang wafat pada 2005.

Kiai Nawawi mengasuh pesantren yang kini terkenal menjadi model pesantren mandiri melalui pengembangan BMT-BMT Syariah yang menyebar terutama di hampir setiap kabupaten di Jawa Timur.

Kiai Nawawi dikenal sebagai pengasuh yang sangat dekat dengan para santrinya. Ia kerap mengontrol sendiri kamar-kamar santri di malam hari. Ia menginginkan para santri beribadah dan memuthala’ah pelajaran di malam hari. Demikian pengakuan Katib Syuriyah PBNU KH Afifuddin Muhajir saat menyantri di Sidogiri dahulu.

“Lha, katanya mau jadi mujtahid? Kok malah tidur? Ayo dibaca lagi Ghayatul Wushulnya (salah satu kitab Ushul Fiqih),” kata Kiai Nawawi kepada Kiai Afif yang tertidur di mushalla saat mondok dahulu.

Dalam berbagai kesempatan, Kiai Nawawi selalu menekankan kepada para santrinya tentang pentingnya menjaga muru’ah Ulama dan komitmen pengabdian terhadap Nahdlatul Ulama. Tak heran jika kemudian para santri Sidogiri yang banyak mendirikan pesantren modern, selalu melabeli pesantrennya sebagai bagian dari NU yang memadukan metode pendidikan modern dan mempertahankan kajian kitab klasik.

Kecuali pengembangan perekonomian, pesantren Sidogiri yang tengah diasuhnya kini dikenal memiliki banyak alumni muda yang mengembangkan pemikiran yang loyal dalam pemeliharaan paham Ahlus Sunnah wal Jamaah di tengah pelbagai macam aliran lain.

Sebagaimana dimaklum, pesantren Sidogiri didirikan pada 1745 M oleh Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban (yang wafat pada 1766 M). Sayyid Sulaiman tidak lain keturunan keempat Syekh Syarif Hidayatullah yang biasa dikenal dengan Sunan Gunung Jati. (Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)