Kiai Said Lantik Empat PCNU di Sulawesi Barat

Mamuju, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj melantik empat PCNU di Sulawesi Barat yang meliputi PCNU Polewali Mandar, PCNU kabupaten Mamuju. PCNU Kabupaten Majene, dan PCNU Mamuju Tengah yang merupakan Cabang baru hasil pemekaran. Sebenarnya, pelantikan Cabang merupakan tugas PWNU, tetapi mereka meminta Kiai Said melantiknya.

Acara yang diselenggarakan pesantren Awaluddin Kuo, Mamuju Tengah, Selasa (8/12) ini dihadiri oleh sekitar 6 ribu orang yang terdiri dari para pengurus, alim ulama, santri dan warga NU setempat. 

Terpilih sebagai Rais Syuriyah PCNU Mamuju Tengah K Muhammad Kosim dengan Ketua Sakaria K dalam musyawarah beberapa waktu lalu. Daerah otonomi baru ini baru berdiri dua tahun. Karena struktur NU mengikuti struktur pemerintahan, maka dengan pembentukan kabupaten baru, selanjutnya diikuti dengan pembentukan PCNU baru. 

Sakaria menjelaskan, Mamuju Tengah merupakan daerah dengan jumlah pesantren terbanyak di Sulawesi Barat. Di sini terdapat sekitar 40 pesantren yang menjadi basis kultural tradisi NU. 

Ia menjelaskan, akan melakukan pembenahan ke PAC dan pembentukan Ranting di tingkat desa. 

“Dalam jangka pendek, kami akan melakukan konsolidasi pengurus. Selanjutnya, kita akan turun ke PAC untuk pembenahan secara lebih sempurna, kemudian menghimbau PAC untuk mengusulkan pembentukan Ranting di tingkat desa. Kita ingin paling tidak di setiap masjid ada lembaga NU-nya,” paparnya. 

Ia juga akan lebih banyak melakukan silaturrahmi ke pesantren supaya lebih bisa bersinergi untuk pembinaan umat. “Kami akan berupaya melakukan pesantren mendapat perhatian dari pemerintah,” tuturnya. 

Ia mengatakan, dalam pertemuan tersebut, Kiai Said berpesan pentingnya konsolidasi pengurus karena kekompakanlah yang membuat organisasi bisa berjalan.  

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Said juga berpesan, agar pengurus NU rajin-rajin berkunjung ke umat agar mengetahui problem masyarakat dan programnya tidak sekedar pengajian. “Keberadaan pengurus itu disambut baik ketika programnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” katanya menirukan pesan Kiai Said. 

Mengenai akidah Aswaja An-Nahdliyah, Kiai Said mengharapkan agar keyakinan, akidah, dan syariat NU dikembangkan di tengah-tengah masyarakat. 

Di akhir penyampaiannya Kiai Said mengupas Islam Nusantara. Ia menjelaskan Islam sangat mentoleransi berbagai tradisi yang ada, yang penting tidak secara hakiki tidak bertentangan dengan syariat agama. Islam Nusantara bukan sesuatu yang baru, tetapi mencoba mengakomodir tradisi yang ada, yang kemudian dibuat sedemikian rupa untuk tidak bertentangan dengan syariat. Islam Nusantara bukanlah Islam yang sangat kaku. 

“Dengan Islam Nusantara menjadi Islam yang inklusif. Bukan Islam yang suka berperang atau intoleran, tetapi sangat menghargai perbedaan. Bukan menghegemoni tradisi yang ada, malah mengembangkan,” demikian kata Kiai Said seperti disampaikan oleh Sakaria.

Dalam kesempatan tersebut Kiai Said juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan NU Center Mamuju Tengah. (Mukafi Niam)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)