Kiai Said: Membela Negara Hukumnya Fardlu Ain

Jakarta, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan wajib bagi setiap individu untuk membela negara dan Tanah Air tercinta. “Membela negara hukumnya fardlu ain,” ujarnya di hadapan peserta apel bela negara di markas kolinlamil TNI AL, Jakarta Utara, Sabtu (21/11).

Kewajiban membela negara, kata Kiai Said, sebagaimana wajibnya melaksanakan perintah shalat lima waktu bagi umat Islam. “Ini ditegaskan oleh fatwa Hadratussyaikh KH Muhammad  Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama, kakeknya Presiden Abdurrahman Wahid,” katanya disambut aplaus hadirin.

Doktor jebolan Universitas Ummul Quro Mekah Arab Saudi ini menambahkan, mati dalam rangka membela Tanah Air dianggap mati syahid. “Sama dengan mati dalam membela agama,” tegas Kiai Said.

Sebaliknya, barangsiapa bekerja sama dan membela penjajah maka halal darahnya dan layak dibunuh. “Mereka tetap muslim, tidak kafir. Tapi boleh dibunuh, halal darahnya. Ini bagi siapa saja yang berkhianat kepada Tanah Air. Itulah salah satu fatwa Mbah Hasyim Asyari dalam Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945,” papar Kiai Said.

Jawaban Mbah Hasyim tersebut, kata Kiai Said, menjawab pertanyaan tentang hukum membela negara dan Tanah Air yang diajukan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan Panglima Besar Jenderal Sudirman melalui seorang utusan yang dikirim mereka.

Dengan demikian, lanjutnya, para santri dari berbagai daerah di Jawa Timur semua siap menyambut kedatangan pasukan NICA yang membonceng pasukan sekutu di bawah Komandan Brigjen Mallaby asal Inggris. Begitu pasukan asing mendarat di Surabaya, para santri siap mati syahid demi membela keutuhan NKRI mempertahankan proklamasi kemerdekaan.

“Kurang lebih 20 santri gugur. Tapi Alhamdulillah di hari pertama perang, Brigjen Mallaby mobilnya meledak. Sopirnya, ajudannya, dan dia sendiri semuanya mati. Nah, yang memasang bom di mobilnya Mallaby ini, mohon maaf, bukan TNI bukan siapa-siapa, tapi santri Tebuireng, namanya Harun,” tutur Kiai Said disambut aplaus para santri.

Kiai nyentrik ini lalu mengisahkan lagi peran heroik santri lainnya. Namanya Cak Asy’ari . Dengan gagah berani, santri ini naik ke atap hotel Orien. Sekarang berubah menjadi hotel Majapahit di Surabaya. Ia lalu menurunkan bendera Belanda, merobek-robek yang warna biru. Kemudian tinggallah merah putihnya saja. Lalu, dinaikkan kembali bendera tersebut.

“Meski ditembaki dari kanan kiri dan juga dari bawah, dia Alhamdulillah tetap selamat. Itulah rangkaian sejarah yang sangat penting di mana para kiai dan santri semangat membela kemerdekaan Tanah Air kita,” tandasnya.

Menurut Kiai Said, hari ini (kemarin) PBNU menggelar kegiatan santri bela negara setelah Presiden Jokowi meresmikan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2015 yang kebetulan nomor Keppresnya juga 22. “Tanggal tersebut ternyata bertepatan dengan 9 Muharram 1436 H. Itu hari yang mulia bagi Umat Islam. Luar biasa, semuanya telah diatur oleh Tuhan,” ujarnya bangga.

Ketua LPOI ini menambahkan, ke depan, setiap tahun selain ada peringatan hari santri nasional juga akan digelar acara pelayaran santri bela negara dalam skala yang lebih besar, lebih baik, dan lebih teratur. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Foto: Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj didampingi Waketum KH Slamet Effendy Yusuf sedang berbincang dengan Pangkolinlamil Laksda TNI Aan Kurnia usai apel santri bela negara di dermaga Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu (21/11).

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: