Kisah Sepasang Kekasih Menempuh Perjalanan ke Makkah

Makkah, NU Online
“Saya kangen sekaligus khawatir. Kangen karena memang sejak di Makkah belum bertemu istri. Khawatir karena memikirkan istri saya yang sakit asam urat, nanti siapa yang akan membantunya saat tawaf? Kalau ketemu, saya ingin gendu-gendu rasa atau curhat.” 

Rasa kangen dan khawatir itu pula yang mendorong Kakek Muchbir bin San Mukhid (62) untuk melangkah, mencari keberadaan sang istri di Bumi Bakkah. Berawal dari curhat dengan teman sekamarnya, Kuncoro (65), mereka berdua datang  ke Kantor Daerah Kerja Makkah untuk bertanya tentang keberadaan istri tercinta, Tjawen Binti Nasidi  (62). Kepada tim Media Center Haji (MCH) Daker Makkah,  Kamis (10/09) lalu, Kakek Muchbir pun berkisah tentang perjalanan hajinya yang sarat dengan nilai sabar dan cinta.

Kamis (20/08), diiringi azan, iqamat, dan salawat, Muchbir bin San Mukhid (62) beserta istrinya Tjawen Binti Nasidi (62) berangkat dari rumahnya di Banyu Mas menuju Embarkasi Donohudan Solo untuk memenuhi panggilan Sang Pemberi Nikmat. Senandung talbiyah terus menghiasi mulut mereka, Labbaikallahumma labbaik… labbaika laa syariika laka labbaik… aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu.

Banyu Mas – Solo ditempuh dengan haru dan bahagia. Kebahagiaan begitu nampak pada wajah keduanya.  Seakan begitu dekat di kelopak mata, bayangan  indah bisa beribadah bersama di Raudlahnya Masjid Nabawi dan Multazamnya Majidil Haram. Maklum, berhaji memang sudah  menjadi cita-cita bersama Muchbir dan istrinya sejak lama.

Semua berjalan sesuai rencana sampai Allah membuka tabir iradah-Nya. Hari itu, nama Tjawen dipanggil sebagai penerima visa, tapi tidak dengan Muchbir, suaminya. Penyesuaian sistem e-hajj Arab Saudi menjadikannya sebagai salah satu jamaah haji yang harus tertunda keberangkatannya.

Wajah Nenek Tjawen  sontak berubah. Semburat kesedihan mulai nampak seiring keluarnya bulir tetes air mata. Sungguh di luar dugaan kalau suami tercintanya harus berangkat pada waktu dan kelompok terbang yang berbeda. Jamak kalau Nenek Tjawen bersedih. Tergabung dalam kloter 4 Embarkasi Solo (SOC 04), Tjawen akan berangkat pada Sabtu (22/08). Sementara suaminya, belum beroleh kepastian tentang kapan berangkatnya.

Nenek Tjawen menangis, sementara Kakek Muchbir terus berusaha menenangkannya. Ingin tetap  berangkat bersama, Tjawen memilih menunda, menunggu hingga ada kepastian visa keberangkatan belahan jiwanya. “Istri saya taat. Terbukti dia memilih menunda keberangkatannya, menunggu saya di asrama haji,” kenang Kakek Muchbir seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Jumat (21/08), SOC 04 terbang ke Saudi membawa saudara dan teman manasik sepasang kakek dan nenek ini. Senandung Salawat Badar yang menggema menambah gundah keduanya hingga tetes air mata mengalir untuk kesekian  kalinya. “Sabar ya Bu!” nasihat Kakek Muchbir kepada Nenek Tjawen, istri tercinta sembari memegang erat kedua tangannya.

Empat hari berselang di Donohudan, kabar baik tentang keberangkatan Kakek Muchbir belum juga datang. Nenek Tjawen terus menangis dan bersedih. Mulai terbayang pada benaknya, apakah dia jadi berangkat haji ataukah tidak. Terbayang ketiga puteranya yang senantiasa bermunajat untuk hal terbaik bagi mereka. Terbayang pula puluhan tetangga yang sudah ikut mengiring keberangkatannya. Hal itu menambah sedih hingga Nenek Tjawen terus menangis.

Empati dengan hal ini,  Pak Toro (60), kenalan Kakek Muchbir selama menginap di Donohudan mencoba menghibur, memberi pengertian kalau semua akan baik-baik saja. “Ini hanya tertunda, tapi semua akan berangkat ke Tanah Suci,” ujarnya meyakinkan.

Kakek Muchbir pun bertambah tenang dan mencoba menenangkan istrinya. Baginya, bertemu dengan Pak Toro, jamaah asal Kudus yang juga tertunda keberangkatannya menjadi hikmah tersendiri. Bersama-sama selama empat hari di asrama haji, memberi kesan bahwa sahabat barunya adalah orang yang bisa dipercaya. Mendengar kabar kalau Pak Toro sudah keluar visanya, Kakek Muchbir menetapkan hati untuk mempercayakan keberangkatan istri bersama SOC 11 di mana Pak Toro ikut di dalamnya.

Minggu (23/08), jamaah SOC 11 terbang memenuhi panggilan menjadi dluyuufur-Rahman (tamu Allah Yang Maha Rahman). Lantunan salawat badar mengiringi jamaah haji diantar ke pesawat, menambah sedih rasa Kakek Muchbir melepas sang istri. “Kalau Bapak ikhlas mengijinkan, saya akan ikut Pak Toro di kloter 11. Tapi kalau Bapak tidak ikhlas dan tidak mengijinkan, biar saya menemani Bapak di asrama haji ini,” terngiang perkataan Nenek Tjawen saat Kakek Muchbir memberinya alternatif untuk berangkat lebih dahulu. Tak terasa, matanya kembali sembab bersamaan dengan rombongan jamaah SOC 11 yang sudah mulai tidak terlihat.

Niat mengizinkan  Nenek Tjawen berangkat lebih dulu bersama SOC 11 semakin mantap, sehubungan dukungan yang diberikan oleh sang anak. “Ini mungkin ujian kesabaran bapak. Kalau bapak rela, silahkan ibu berangkat dulu. Saya juga rela,” tutur Mbah Muchbir menirukan anaknya.

Sementara Nenek Tjawen sudah tiba di Madinah Al-Munawwarah, Kakek Muchbir masih berada di Asrama Haji Donohudan. Hari-hari dihabiskannya dengan merasai sabar atas ujian yang sedang dialami. Meski demikian, Kakek Muchbir tetap optimis kalau dirinya akan tetap berangkat, menyusul Nenek Tjawen untuk sama-sama beribadah di Tanah Suci. 

“Ini mungkin cobaan, bukan musibah. Kalau Allah menghendaki saya berhaji, maka saya akan berhaji. Alhamdulillah akhirnya bisa berangkat,” tutur Kakek Muchbir mengenang kembali rasa yang bergolak di dada saat mendengar informasi kalau dirinya berangkat bersama SOC 23 pada Jumat (28/08).

Ya… setelah delapan hari di Asrama Haji, Kakek Muchbir akhirnya bisa diberangkatkan ke Tanah Suci. “Alhamdulillah, saya bisa menjalani Arbain di Masjid Asrama Haji, sebelum Arbain di Masjid Nabawi,” guraunya kepada Tim MCH. 

“Saya menilai ini ujian. Karenanya, sejak awal saya katakan bismilllah, mudah-mudahan kuat. Alhamdulillah sampai juga ke Madinah dan Makkah,” kenangnya lagi.

Karena berangkat dengan kloter berbeda, Kakek Muchbir dan Nenek Tjawen juga menempati hotel yang berbeda ketika di Madinah. Rasa kangen kerap mendera, tapi Kakek Muchbir bersabar dalam pencarian cintanya di Tanah Suci. Kesabarannya terbayar ketika pada satu waktu berkesempatan bertemu dengan kawannya di Masjid Nabawi yang tahu dengan keberadaan istrinya. 

“Saya bertemu teman di pintu 15 Masjid Nabawi, lalu saya  di antar ke pemondokan istri,” kenang Muchbir. Sayang pertemuan di Madinah tidak bisa berlangsung lama, karena istrinya harus segera berangkat ke Makkah untuk proses haji selanjutnya. Meski demikian, Muchbir mengaku bahagia karena bisa melihat langsung dan memastikan kalau pendamping hidupnya dalam keadaan sehat. “Alhamdulillah istri saya sehat,” ujarnya sendu.

“Sekarang di Makkah, saya ingin tahu keadaan istri saya,” katanya dalam kesempatan berkonsultasi ke seksi perlindungan jamaah Daker Makkah, Kamis (10/09).

Muchbir yang di Makkah tinggal di hotel 626 mengaku selalu teringat istrinya karena mantan pacarnya itu mengidap sakit  asam urat. Untuk itu, Muchbir berharap bisa segera ketemu agar bisa  mendampingi saat menjalankan  tawaf (umrah, -red). “Saya juga berharap bisa mendampinginya saat wukuf di Arafah,” aku Muchbir.

“Istri bapak ada di Sektor 8 Hotel Al-Jawharah,” terang Kasi Perlindungan Jamaah Jaetul Muchlis setelah menerima informasi awal bahwa jamaah atas nama Tjawen berangkat dengan kloter SOC 11. 

Muchlis bersama tim Media Center Haji (MCH) Daker Makkah lalu mengantar Mbah Muchbir dan temannya ke pemondokan 801. Dari Ketua Sektor 8, diketahui bahwa jamaah atas nama Nenek Tjawen dari SOC 11 tinggal di kamar 3512, tower tiga, lantai 5, dengan nomor kamar 512.

Sepanjang perjalanan, Mbah Muchbir terus mengumbar senyum kebahagiaan karena akan segera bertemu pendamping hidupnya.  Beberapa hari berpisah sejak keberangkatan istrinya dari Madinah menuju Makkah memberi dorongan kerinduan dalam dirinya untuk segera tahu kabar dan keadaan istrinya.

Jelang sampai di kamarnya, Pak Toro kebetulan sedang berada di luar dan langsung mengenali tamunya. “Mas mrene… Bu Tjawen, niki mamase teko,” teriak Mas Toro mengundang Nenek Tjawen untuk keluar dari kamarnya.

Nenek Tjawen keluar kamar dan spontak terluap ekspresi kegembiraannya. Sembari memanggil Mbah Muchbir, nenek Tjawen memeluk erat suaminya. Semua berjalan begitu natural hingga kami yang menyaksikan terharu.

“Saya kangen sekaligus khawatir. Kangen karena memang sejak di Makkah  belum bertemu istri. Khawatir karena memikirkan istri saya yang sakit asam urat, nanti siapa yang akan membantunya saat tawaf? Kalau ketemu, saya ingin gendu-gendu rasa atau curhat,” aku Mbah Muchbir ketika ditanya perasaannya setelah bertemu istrinya.

“Pokoknya saya kangen. Selama ini  seneng dan susah bareng-bareng. Jadi ya saya pengen begitu sama istri saya, biar dipikul bersama,” katanya lagi.

Nenek Tjawen juga terlihat begitu bahagia, ditandai air mata yang mengalir di pipinya. “Alhamdulillah, sudah dibantu. Seneng jeh… sudah beberapa hari tidak ketemu, jadi kangeeeen,” ujarnya.

Menurutnya, oleh para tetangga di desa, Mbah Muchbir di kenal sebagai orang yang sabar. Karenanya, perpisahaan ini Nenek Tjawen anggap sebagai ujian kesabarannya. “Bapak sedang ibadah, saya sedang ibadah, yang penting Bapak sehat, saya juga sehat. Berhatap ketika armina bisa bergabung dengan Bapak. Pulanganya juga berharap bisa bersama sama,” harapnya. 

“Saya mau genduk-genduk rasa dengan istri saya, jadi jangan ditonton yaa,” kata Mbah Muchbir mengingatkan kalau tugas kami sudah selesai.

“Silahkan ngobrol dulu…nanti saya jemput… kalau ibu mau main ke tempat Bapak, saya siap antar juga,” kata Jaetul Muchlis sembari mengajak kami meninggalkan Mba Muchbir dan Nenek Tjawen.

Dari jauh, nampak mereka asik bercengkerama, melepas rindu ala kakek dan nenek. Mereka mengajari kami tentang cinta dan sabar dalam menghadapi cobaan hingga semuanya akhirnya berujung pada rasa bahagia.

Terima kasih Mbah Muchbir, terima kasih Mbah Thawen!!! Red: Mukafi Niam

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: