Konflik Timur Tengah, Krisis Spiritualitas dan Pudarnya Ukhwah Islamiyah

Jombang, NU Online
Syiria dan negara-negara Islam Timur Tengah lain dilanda konflik dan peperangan yang berkepanjangan. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid menilai di antara faktor terjadinya hal itu karena krisis spritualitas dan pudarnya ukhuwah Islamiyah di kalangan umat Islam sendiri.

Menurut cucu pendiri NU, Hadrotusy Syekh KH Hasyim Asy’ari tersebut, spiritualitas tidak selalu berkaitan dengan agama, walau memang sangat erat hubunganya.

“Orang yang tidak beragama juga bisa memiliki spiritualitas tinggi,” katanya pada sambutan pembukaan Seminar Internasional bertajuk “Binayatu al-Hadlarah al-Islamiyah Intilaqan min al-Tarbiyah al-Ruhaniyah” atau “Membangun Peradaban Islam Berbasis Spiritualitas”, di Gedung KH M. Yusuf Hasyim lantai 3, Jumat (6/11).

Ia mencotohkan ada negara-negara yang mayoritas tidak percaya Tuhan, namun nilai-nilai keagamaan dan ketuhanan justru ada di situ. Sebaliknya, hal itu susah ditemukan di negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim. “Yang harus dibenahi adalah akhlak. Kita harus berusaha mengejar ketertinggalan kita,” ungkapnya.

Kiai yang akrab disapa Gus Sholah tersebut berharap konflik di Suriah yang mengakibatkan lebih dari 250.000 orang meninggal, dan 10 juta-an orang mengungsi, 4 juta di antaranya, menungsi ke luar negeri, segera berakhir.

Salah seorang narasumber seminar, Syaikh Mahmoud Shahatah menjelaskan tentang ajaran-ajaran Islam yang indah mengenai spiritualitas pembangun peradaban. “Islam menggabungkan antara materialisme dan spiritualisme untuk membentuk peradaban,” ungkap dosen Universitas Ahmad Kuftaro ini.

Menurut menantu Syaikh Dr. Rajab tersebut, peradaban sebelum Islam seperti yang dibangun Plato dan Aristoteles tidak berlangsung lama karena tidak didasari oleh nilai-nilai spiritualitas. Pondasi Islam yang sempurna inilah yang oleh musuh-musuhnya diobrak-abrik.

Di akhir seminar, ia meminta doa kepada hadirin dan umat Islam Indonesia untuk keselamatan Suriah agar segera keluar dari cobaan berat yang sedang melanda.

Selain dia, direncanakan hadir Syaikh Dr. Rajab Subkhi Dieb (Mursyid Tarekat al-Naqsabandiyah Suriah) dan KH Muzammil Basuni (mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Arab Syiria). Namun, keduanya berhalangan hadir.

Seminar tersebut dimoderatori sekaligus penerjemah KH Salman al-Farisi, Pengasuh Pesantren al-Najiyah 2 Tambakberas, Jombang. Ia pernah menempuh pendidikan di Suriah.

Sekitar 500 orang mengikuti kegiatan yang merupakan kerja sama Pesantren Tebuireng, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, UNHASY, dan Ikatan Alumni Syam Indonesia, tersebut. (abror/abdullah alawi)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: