Lagu Lir-Ilir dan Padang Bulan Bersenandung di Yaman

Jakarta, NU Online
Idul Adha adalah pekan libur tahunan bagi mahasiswa di Yaman khususnya mahasiswa Imam Shafie College yang berlokasi di Ibu Kota Provinsi Hadramaut, Kota Mukalla. Pada liburan Idul Adha kali ini mahasiswa bersama staf pengurus Ribath dan Universitas Imam Syafi’i menghabiskan masa liburan di Kota Tarim. Di kota ini mereka melangsungkan pelbagai macam ritual termasuk melantunkan Lagu Lir-Ilir dan Padang Bulan.

Sebelumnya di hari Arafah, mereka mengikuti munajat bersama di Khelih, Tarim bersama para Ulama’ dan Habaib Kota Tarim usai sholat Ashar sampai menjelang masuknya waktu Isya’. Selain bermunajat, mereka berbuka puasa Arafah bersama dengan menu nasi kebuli dan Kambing yang dibagikan kepada para hadirin secara cuma-cuma.

Esok harinya, mereka melaksanakan sholat Ied di Jabanah, satu tempat khusus yang digunakan untuk sholat Ied dan shalat Jenazah yang lokasinya tepat di jantung Kota Tarim dan berseberangan dengan Pemakaman Zanbal yang terkenal dengan Makam Seribu Wali.

Pada Ahad malam, “Kami mengadakan ‘awad di penginapan.”

Awad adalah semacam acara kumpul bersama yang diisi dengan pembacaan sholawat, qasidah serta do’a. Dalam ‘Awad sendiri biasanya ada minuman khas yang disajikan yaitu Kopi Tarim. “Kopi di sini lebih cenderung menggunakan campuran jahe dari pada biji kopi,” kata Imam Abdullah, salah seorang mahasiswa di Yaman, Senin (28/9).

Berhubung forum lebih banyak diikuti mahasiswa Indonesia, urusan sholawat dan qashidah diserahkan kepada mereka, walaupun terkadang diselingi mahasiswa Yaman maupun Saudi.

‘Awad dimulai setelah Isya’ sampai jam 22.30 waktu setempat. Selain menyenandungkan qashidah dan sholawat, mahasiswa Indonesia banyak yang maju di hadapan hadirin untuk mempertunjukkan tari Zafin maupun Gambus.

Penyajian acara yang sejak awal menggunakan kultur dan nada padang pasir. Hingga tiba di penghujung acara, mahasiswa Indonesia berinisiatif membawakan qashidah khas Indonesia. Di luar ruangan tampak cahaya rembulan begitu terang karena malam ke-14 yang mendekati purnama.

Di bawah pancaran rembulan mahasiswa Indonesia membawakan qashidah “Padang Bulan” yang dipopulerkan oleh Habib Syeikh. Mereka kemudian melanjutkannya dengan tembang kanjeng sunan “Lir-Ilir”.

“Sementara syekh dan staf pengurus harian kuliah beserta mahasiswa dari Yaman dan Saudi hanya tersenyum tanpa memahami apa yang kami baca secara serentak ini karena tak lain bahasanya adalah bahasa Jawa,” tandas Imam. (Red Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: