Lahirkan Kader Profesional, PMII UINSA Gelar Pelatihan Fasilitator

Surabaya, NU Online 
Guna melahirkan kader profesional yang cakap berbicara di depan umum dan mampu melakukan komunikasi organisasi dengan baik, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Dakwah dan Komunikasi Komisariat UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar pelatihan fasilitator bertema ‘Menjadikan Organisator yang Bijaksana dan Komunikatif’.

Ketua PMII Rayon Dakwah dan Komunikasi, Hoiron Kasir mengatakan, kapasitas dan kompetensi kader secara berkala harus ditingkatkan. Hal tersebut dinilai penting mengingat persaingan global kini semakin ketat. Aspek profesionalitas merupakan hal wajib yang mutlak dimiliki seorang aktivis sebab didalamnya terdapat nilai kerja keras, loyalitas dan komitmen memajukan organisasi.

“Tidak hanya menjadi kader biasa, tapi pengurus rayon serius untuk membekali berbagai macam skill, salah satunya dengan menggelar pelatihan fasilitator. Juga dalam rangka menjawab kebutuhan ketika nantinya sahabat-sahabat berbaur dengan masyarakat,” ungkapnya saat diwawancarai di lokasi Pelatihan Jalan Tambak Mayor Baru Surabaya, Ahad (7/6).

Nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan keadilan, menurutnya harus benar-benar menjadi prinsip dasar bagi seorang yang profesional. Maka seorang profesional tak cukup hanya cerdas dan pintar secara intelektual, tapi juga sisi mental dan emosional.

Pada pelatihan kali ini, Hoiron mengungkapkan materi yang diberikan pada peserta diantaranya yakni public speaking, presentation skill, manajemen organisasi, manajemen kepanitiaan dan problem solving. Kegiatan yang dilakukan selama dua hari, Sabtu-Ahad (6-7/6) diikuti oleh sebanyak 30 peserta.

Ketua Panitia Pelatihan Fasilitator, Amalia Alvi mengatakan, panitia menggunakan tiga metode pendekatan dalam menyampaikan materi yakni ceramah, brain storming dan diskusi. Diharapkan dengan berbagai pendekatan tersebut, peserta lebih mudah mencerna penyampaian materi dari narasumber.

“Biasanya jika mendengarkan materi yang cukup banyak peserta mudah bosan. Agar tidak monoton kita pakai brain storming dan diskusi, bahkan pada akhir materi ada sesi praktik. Seperti materi public speaking, peserta satu persatu praktik menjadi MC, pidato dan lainnya,” terangnya. (Luqman Hakim/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)