Lajnah Falakiyah NU: Jangan Andalkan Kompas untuk Tentukan Arah Kiblat

KUDUS – Saat membangunan musholla atau masjid, masyarakat dihimbau supaya berhati-hati menggunakan alat Kompas dalam menentukan arah kiblat. Sebab, penggunaan alat kompas terkadang menyebabkan ketidakakuratan arah kiblat masjid dan musholla.

Himbauan ini disampaikan Ketua Lajnah Falaqiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Kudus M Agus Yusrun Nafi’ kepada NU Online di Kantor NU Jl Pramuka 20 Kudus, Selasa (5/5).

Menurutnya, alat Kompas mengandung fayasi magnet sehingga dalam menentukan titik U (Utara) tidak sesuai semestinya. Karena U menjadi titik pangkal utama. Bila hal itu tidak sesuai, maka titik kiblatnya akan berubah atau bergeser.

“Di tempat masjid banyak besi atau benda lain yang bisa menyedot daya magnet kompas sehingga mampu mempengaruhi atau menggeser kerja alat tersebut,” ucapnya.

Agus mengatakan, mencari arah kiblat sebaiknya menggunakan bayang-bayang matahari guna menentukan titik U sejati. Media yang digunakan dengan alat Teodolit (pengukur jalan).

“Kalau pakai kompas kadang bisa bergeser mencapai 10 derajat. Tapi dengan alat teodolit bisa menentukan titik sejati,” tegasnya.

Selama ini, dalam pengamatannya, sebagian masyarakat membangun masjid hanya disesuaikan dengan kondisi tanah, bukan berdasarkan arah kiblat. Akibatnya, saat diukur mengalami pergeseran selisih 1 derajat.

“Karenanya sebelum membangun masjid atau musholla sebaiknya komunikasi dengan ahlinya supaya arah kiblat tepat dan benar. LFNU Kudus siap membantu memberi solusi,” imbuh Agus.

Untuk menyikapi musholla atau masjid yang arah kiblatnya tidak sesuai, pihaknya menyarankan menggeser posisi shaf sedikit menyerong ke kanan. “Namun semuanya harus dilihat dan diukur terlebih dahulu keakuratan arahnya,” tandasnya.Saat membangunan musholla atau masjid, masyarakat dihimbau supaya berhati-hati menggunakan alat Kompas dalam menentukan arah kiblat. Sebab, penggunaan alat kompas terkadang menyebabkan ketidakakuratan arah kiblat masjid dan musholla.

Himbauan ini disampaikan Ketua Lajnah Falaqiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Kudus M Agus Yusrun Nafi’ kepada NU Online di Kantor NU Jl Pramuka 20 Kudus, Selasa (5/5).

Menurutnya, alat Kompas mengandung fayasi magnet sehingga dalam menentukan titik U (Utara) tidak sesuai semestinya. Karena U menjadi titik pangkal utama. Bila hal itu tidak sesuai, maka titik kiblatnya akan berubah atau bergeser.

“Di tempat masjid banyak besi atau benda lain yang bisa menyedot daya magnet kompas sehingga mampu mempengaruhi atau menggeser kerja alat tersebut,” ucapnya.

Agus mengatakan, mencari arah kiblat sebaiknya menggunakan bayang-bayang matahari guna menentukan titik U sejati. Media yang digunakan dengan alat Teodolit (pengukur jalan).

“Kalau pakai kompas kadang bisa bergeser mencapai 10 derajat. Tapi dengan alat teodolit bisa menentukan titik sejati,” tegasnya.

Selama ini, dalam pengamatannya, sebagian masyarakat membangun masjid hanya disesuaikan dengan kondisi tanah, bukan berdasarkan arah kiblat. Akibatnya, saat diukur mengalami pergeseran selisih 1 derajat.

“Karenanya sebelum membangun masjid atau musholla sebaiknya komunikasi dengan ahlinya supaya arah kiblat tepat dan benar. LFNU Kudus siap membantu memberi solusi,” imbuh Agus.

Untuk menyikapi musholla atau masjid yang arah kiblatnya tidak sesuai, pihaknya menyarankan menggeser posisi shaf sedikit menyerong ke kanan. “Namun semuanya harus dilihat dan diukur terlebih dahulu keakuratan arahnya,” tandasnya.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: