LDNU Subang: Ada Kekuatan Besar Hapus Sejarah Kelam PKI

Subang, KH. Toto Ubaidillah Haz, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Subang menilai saat ini keberadaan Komunis Gaya Baru di Indonesia berkembang cukup pesat namun sulit dideteksi karena mereka bergerak di ‘bawah tanah’.

“Saya memprediksi ada sebuah kekuatan besar yang melindungi keberadaan komunis, salah satu indikasinya adalah sejarah kelam PKI ‘dihapus’ dari sejarah perjalanan Indonesia, sejarah PKI yang dimunculkan adalah dari tahun 1965 ke sini,” kata Dai Kamtibmas Polres Subang itu di Kantor PCNU Subang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (25/11).

Ditambahkannya, sejarah PKI sebelum tahun 1965 bisa dikatakan tidak ada referensi, padahal itu sangat penting untuk melihat karakter PKI karena pada tahun-tahun tersebut PKI banyak melakukan pembantaian terhadap umat Islam, khususnya warga NU.

“Sasaran mereka saat ini adalah kalangan anak muda yang tidak tahu sejarah PKI sebelum 1965, bagaimana mau tahu, kan sejarahnya juga dihilangkan, mereka tidak tahu bagaimana anggota PKI dan Gerwani menyamar jadi Ansor dan Fatayat NU,” ujarnya.

Toto melanjutkan, anggota PKI dan Gerwani yang memakai atribut Ansor dan Fatayat ini kemudian mengundang pengajian para anggota asli GP Ansor, dan di sana anggota GP Ansor ini diberi makanan yang dicampur racun, lalu dibunuh dan dimasukan ke dalam sumur burung.

“Belum lagi tragedi di Trenggalek, Madiun, Lebak, Tegal, termasuk di Subang, kenapa para da’i dan ulama Subang sebelum ’65 kebanyakan pendatang?karena orang asli Subang tidak bisa lolos dari ancaman PKI,” ungkapnya.

Selain itu, kata dia, paham komunis ini disinyalir masuk ke dalam segala lini, termasuk perangkat pemerintahan yang mempunyai akses dalam menentukan arah kebijakan pemerintah. “Termasuk di parlemen, hitungan saya tidak kurang dari 80 orang,” imbuhnya

Diceritakan Toto, anak Jenderal A.H Nasution pernah berkunjung ke Markas TNI Kala Hitam 312 Subang. Dalam kunjungan tersebut dinyatakan bahwa PKI memang sudah banyak dan berkembang di Indonesia.

“Ibu itu saudaranya Ade Irma yang tewas ditembak, beliau juga bilang, TNI, NU dan Banser termasuk salah satu elemen yang ditakuti PKI,” katanya.

Toto menegaskan, jika pemerintah dituntut untuk meminta maaf kepada PKI, mestinya PKI pun dituntut meminta maaf kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam yang tewas karena mereka bunuh.

“Mereka menuntut pemerintah minta maaf karena yang dilihat adalah PKI setelah tahun 1965, coba lihat sejarah PKI sebelum 1965,” tegasnya.

Sebagai tindakan preventif, Toto menyarankan kepada para pemangku kebijakan untuk membentengi kalangan pemuda dari paham komunis dan paham-paham lain yang mengancam tegaknya NKRI. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: