Lesbumi Tiris Barat Gemakan Darul Ulum Bershalawat

Probolinggo, Dalam rangka menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Majelis Shalawat Habsyi Nahdliyin Divisi Hadrah Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tiris Barat (Tiba) menggelar kegiatan Darul Ulum Bersholawat, Selasa (29/12) malam.

Kegiatan yang digelar bekerja sama dengan Yayasan Darul Barokah Desa Pedagangan Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo ini diikuti oleh seribu orang terdiri dari unsur masyarakat sekitar, pengurus Ranting NU dan pengurus MWCNU Tiba.

Dalam kegiatan tersebut, pra acara diisi dengan penampilan hadrah satu persatu dari anggota dari Majelis Sholawat Habsy Nahdliyin sebanyak 9 grup anggota. Acara tersebut dimulai dengan pembacaan Maulid Habsyi oleh para vokalis yang berada diatas pentas dan diakhiri dengan ceramah agama oleh KH Hasan Maulana, Nyai Hj Mutmainnah dan Rais Syuriyah MWCNU Tiba KH Zainul Muttaqin.

Ketua Lesbumi MWCNU Tiba M Arifin menuturkan bahwa seni budaya Islami seperti hadrah Al Banjari harus memiliki kekuatan mobilisasi masa yang kuat se-Tiris Barat. “Hal itu tidak akan tercapai kecuali menggabungkan seluruh hadrah se-Tiba dalam sebuah Majelis Sholawat,” katanya.

Menurut Arifin, Majelis Sholawat Habsyi Nahdliyin adalah perkumpulan beberapa grup hadrah di wilayah Tiris Barat. “Alhamdulillah, 9 grup hadrah yang menjadi anggota turut memeriahkan kegiatan. Salah satunya untuk menggelorakan pembacaan sholawat Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

Sementara Ketua MWCNU Tiba Imron Hamzah mengungkapkan, kegiatan ini digelar dengan tujuan untuk mengimbangi maraknya budaya yang berbau maksiat yang sedang merebak di wilayah Tiris Barat, seperti tayub sawer dan lain sebagainya. Sehingga bisa membentengi masyarakat, terutama generasi muda dari hal-hal negatif yang dapat merusak masa depannya.

“Semoga kegiatan ini bisa membudayakan dan mensyiarkan seni budaya yang bernilai ibadah pada seluruh masyarakat Tiris Barat, khususnya para pemuda. Sebab seni budaya hadrah bukan seni budaya murni melainkan masih ada nilai ibadah didalamnya,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)