LPBI NU Bantu Korban Banjir di Aceh Tenggara

Aceh Tenggara, NU Online
Banjir yang terjadi di Aceh Tenggara menyebabkan kerusakan parah di sejumlah wilayah. Jalan Nasional Aceh Tenggara (Agara) -Gayo Lues (Galus) putus sehingga transportasi darat antarkabupaten lumpuh, ratusan rumah tertimbun lumpur, lahan perkebunan dan perikanan pun rusak.

Menurut Wakil Bupati Aceh Tenggara, Ali Basrah Pasaribu, Banjir yang terjadi di Aceh Tenggara pada 24 Oktober 2015 menyebabkan lima rumah hanyut, 10 lainnya rusak parah, dan 102 rumah terendam lumpur. Selain itu, Jalan Nasional Agara – Galus di Desa Balai Lutu, Kecamatan Ketambe, sepanjang 100 meter juga putus akibat banjir ini. Memang tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian akibat banjir bandang ini diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara telah mendirikan sejumlah tenda pengungsian. Selain dapur umum, berbagai bantuan berupa mi instan, air mineral dan lainnya pun sudah mengalir kepada para masyarakat terdampak banjir. Namun jumlah bantuan yang ada belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat yang terdampak banjir bandang.

Menyikapi hal tersebut,  Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU), Senin (2/11) memberikan bantuan untuk masyarakat terdampak banjir di Aceh Tenggara berupa paket sembako dan selimut kepada 125 KK di 3 (tiga) Kecamatan yaitu: Bukit Kusam, Ketambe dan Babussalam. 

Pemberian bantuan tersebut dilaksanakan berdasarkan assessment (kajian awal) yang dilakukan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Aceh Tenggara, yang menyebutkan bahwa saat ini masyarakat terdampak banjir di Aceh Tenggara sedang membutuhkan paket sembako, makanan, dan selimut.

Menyambut bantuan dari PP LPBI NU, Ketua PCNU Aceh Tenggara, Tengku Muhajirin, mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan, bantuan dari PP LPBI NU ini sangat diperlukan dan sangat membantu masyarakat yang terdampak banjir. 

Ketua PP LPBI NU, M Ali Yusuf mengatakan, bahwa bantuan yang diberikan untuk masyarakat terdampak bencana banjir di Aceh Tenggara setelah dilakukan assessment sebelumnya. Menurut Ali, kejadian banjir di Aceh Tenggara bukan hal baru, sejak tahun 1938, Aceh Tenggara sudah dilanda banjir dan longsor. Hal ini menunjukkan bahwa Aceh Tenggara merupakan daerah yang sangat rawan banjir dan longsor. 

“Oleh karena itu,  LPBI NU berharap dan mengajak pemerintah, masyarakat, dan seluruh pihak di Aceh Tenggara untuk segera merumuskan solusi untuk mengatasi ancaman bencana banjir dan longsor,” jelasnya. (Red: Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: