LPBI NU: Bojonegoro Perlu Siapkan Desa Tangguh

Bojonegoro, Pengurus Cabang Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) mengadakan Focus Grup Discussion (FGD) di aula kantor PCNU Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (13/10). Lembaga PCNU yang konsen menangnani bidang kebencanaan itu, menginginkan Bojonegoro perlu menyiapkan program Desa Tangguh.

Hal ini menggingat di Kota Ledre sering terjadi bencana musiman, misalnya banjir bandang, luapan Bengawan Solo, longsor, dan lainnya ketika musim penghujan tiba. Sementara di musim kemarau juga terjadi kebakaran, angin ribut, dan bencana lain. “Kekuatan utama adalah komunitas untuk menciptakan desa tangguh supaya dapat menangulangi bencana,” kata Ketua PC LPBI NU Bojonegoro Rohmad Maulana.

Sebab, katanya, Desa Tangguh memiliki komunitas yang konsen terhadap bencana, baik pemerintah desa, masyarakat dan juga melibatkan stekholder. “Desa tangguh setidaknya ada 6 aspek dan 60 indikator, paling tidak desa sudah menerapkan beberapa indikator desa tangguh,” sambungnya.

Ditambahkan, LPBI NU sebagai lembaga NU berupaya bagaimana menjawab dan memberi bantuan kemanusiaan, terutama di bidang kebencanaan. “LPBI membutuhkan masukan dari MWC (Majelis Wakil Cabang NU) yang terdampak bencana, baik kekeringan, kebakaran, banjir maupun yang lainnya,” imbuhnya.

Sementara itu, pengurus PCNU Bojonegoro, Zainuddin Asyhari mengapresiasi kegiatan LPBI NU Bojonegoro. Meskipun bencana tidak dapat diprediksi, namun upaya mitigasi juga sangat perlu dilakukan bagi masyarakat, sehingga desa tangguh perlu dilakukan.

“Bencana itu ada tiga, adzab, ujian ataukah sunnatullah,” ungkap mantan ketua PC IPNU Bojonegoro itu dalam membuka FGD yang dihadiri relawan dan pengurus LPBI NU. Serta narasumber, Kasi Kesiapasiagaan BPBD Bojonegoro, Sukirno.

Sebagai warga Nahdiyin, perlu mukhasabah atau intropeksi. Kepedulian LPBI dalam kebencanaan tetap eksis awal sampai akhir, termasuk saat bencana gunung kelud dan yang lainnya, PC LPBI NU Bojonegoro ikut memberikan bantuan.

“Sebagai warga negara Indonesia, LPBI perlu melakukan pencerahan-pencegahan dimasyarakat juga. Terkait masukan dari MWC NU juga bisa ditindak lanjuti,” jelasnya.

Sementara itu, Kasi Kesiapsiagaan BPBD Bojonegoro, Sukirno menjelaskan tentang peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PNPB) Nomor 1 tahun 2012, tentang pedoman umu desa/kelurahan tangguh bencana.

Di Bojonegoro, Desa Tangguh sudah dilakukan Palang Merah Indonesia (PMI) melalui Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat). “Rencananya BPBD di tahun 2016 akan membuat percontohan desa tangguh,” jelasnya.

Dua desa yang akan menerapkan program tersebut di desa yang terdampak banjir bengawan dan banjir bandang. Desa belum ditentukan, tetapi kemungkinan ada 6 kecamatan yang menjadi pilihan diantaranya Kecamatan Temayang, Gondang, Malo dan yang lainnya. (M. Yazid/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: