LTMNU-LKNU Launching Program “Klinik Masjid”

Jakarta, NU Online
Meskipun usia kepengurusan periode 2010-2015 tinggal menghitung hari karena sudah menjelang muktamar, Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) dan Lembaga Kesehatan NU (LKNU) tetap aktif menjalin kerjasama. Kali ini bekerjasama dengan Indonesia Health Protection (IHP) meluncurkan program “Klinik Masjid” dan program Gismas bekerjasama dengan CIMB Niaga Syariah di gedung PBNU, Selasa (28/7).

Ketua LTMNU KH Abul Manan Ghanie menjelaskan, program ini merupakan upaya NU untuk memakmurkan masjid. Dengan adanya klinik kesehatan, diharapkan masjid bukan hanya menjadi tempat shalat saja, tetapi mengembangkan aktifitas lain yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ade Budi Setiawan, pimpinan IHP menambahkan, program ini akan disebar di 50 masjid dengan fokus awal di daerah Jawa Barat. Nantinya, layanan kesehatan yang diberikan bersifat mandiri. Klinik tersebut tidak mengenakan biaya pengobatan, tetapi disisi lain juga menerima infak jika ada pasien yang ingin membantu pendanaan. 

 Direktur Utama CIMB Niaga Syariah Firman Tamyiz dalam kesempatan tersebut menyatakan kesiapannya untuk membantu penyimpanan dana milik masjid NU di kantor CIMB yang sekarang di seluruh Indonesia sudah berada di 963 lokasi. Dalam kesempatan tersebut, ia menyumbangkan dana sebesar 100 juta untuk pemberdayaan masjid. 

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menjelaskan bahwa perjuangan NU masih panjang karena masih banyak sekali kelompok masyarakat NU yang perlu diberdayakan. 

“Islam menekankan pentingnya kita untuk meninggalkan keturunan yang kuat, kuat hartanya, kuat imannya, kuat ilmuanya, kuat fisiknya, dan lainnya,” tandasnya.

Pemberdayaan ekonomi merupakan satu aspek yang sangat penting untuk diperhatikan. Ia mencontohkan, Nabi Muhammad merupakan anggota suku Quraish, suku pedagang yang menguasai jalur perdagangan di utara dan selatan jazirah Arab. 

“Jadi Nabi Muhammad dilahirkan dari kelompok orang yang kaya, bukan orang pinggiran,” katanya menjelaskan. 

Untuk bisa meraih kesuksesan, tentu saja tidak bisa terjadi dalam satu malam. “Tuhan saja menciptakan alam semesta selama enam hari, ini menunjukkan ada proses dan tahapan-tahapannya, bukan langsung jadi dalam satu malam,” katanya. 

Karena itu, penting sekali untuk bisa berhasil tidak boleh berputus asa. “Kita tidak boleh berputus asa terhadap rahmat Allah, karena kegagalan itu datangnya dari berputus asa,” tandasnya. (Mukafi Niam) 

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: