LTNNU Jatim Adakan Sarasehan Penerbit Nahdliyin dan Pesantren

Surabaya, Tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren dan warga NU memiliki banyak usaha penerbitan. Mempertemukan sekaligus mengajak mereka bermusyawarah merupakan langkah penting agar seluruh potensi yang ada dapat disinergikan.

Pandangan ini antara lain yang menginspirasi Pengurus Wilayah Lembaga Ta’lim wan Nasyr Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PW LTN NU Jatim) menyelenggarakan sarasehan dan musyawarah penerbit pesantren dan nahdliyyin Jawa Timur. “Kegiatan akan diselenggarakan di Museum NU Jatim, Ahad 8 November,” kata ketua panitia, H Ahmad Karomi, Jum’at (6/11).

Sarasehan dengan tema meneguhkan dan mengkonsolidasikan posisi penerbit NU dalam perbukuan nasional ini akan menghadirkan sejumlah narasumber. “Pertama adalah M. Ma’ruf Asrori yang juga direktur penerbit Khalista Surabaya,” katanya. Kemudian juga akan tampil Akhmad Fikri AF selaku Ceo Penerbit LKiS Yogyakarta dan Ketua IKAPI DIY.

“Ada juga Elan Primansyah selaku Ceo PT Buqu Global  Jakarta yang akan mengupas seputar buku digital sebagai alternatif produk penerbitan masa depan,” terangnya. Dan yang terakhir adalah Ahmad Hakim Jayli selaku Direktur Tama TV9 sekalgus pegiat Jaringan NU Media.

Di sesi akhir acara akan ada musyawarah yang dipandu Ahmad Najib AR sebagai Ketua PW LTNNU Jawa Timur yang berujung pada gagasan pembentukan asosiasi Penerbit NU Jawa Timur.

“Kita ingin mengajak para pegiat penerbitan tidak semata memandang sebagai usaha ekonomi belaka. Lebih dari itu, penerbitan merupakan sebuah upaya riil di dalam turut mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Ahmad Karomi. Melalui karya-karya yang diterbitkan, usaha penerbitan memiliki peran yang sangat besar dalam memajukan ilmu pengetahuan dan membangun karakter bangsa.

Namun seiring berjalannya waktu, tantangan usaha penerbitan tergolong semakin berat. Kondisi perekonomian nasional bahkan global yang belakangan ini semakin memburuk sedikit banyak juga berimbas pada bisnis penerbitan, termasuk dirasakan penerbit pesantren. “Harga bahan yang tidak stabil bahkan cenderung terus naik sangat berpengaruh besar pada kapasitas produksi dan harga jual,” ungkapnya. 

Padahal di sisi lain, lanjutnya, kemampuan ekonomi masyarakat cenderung menurun dan otomatis berefek pada turunnya daya beli, termasuk untuk kebutuhan buku ataupun kitab.

Keprihatinan lain adalah sistem distribusi buku atau kitab juga belum terbangun dengan baik dan berimbang. “Rantai distribusi yang terlalu panjang membuat harga buku di level pembeli menjadi sangat tinggi,” tandasnya. Terlebih lagi sistem yang ada masih terkesan bersifat monopolistik, karena dikuasai oleh jaringan toko buku tertentu yang secara sistemik sangat berpihak dan menguntungkan sejumlah penerbit besar. 

“Kenyataan ini juga diperparah dengan kurangnya perhatian pemerintah di dalam mendukung bidang usaha penerbitan, baik dari sisi dukungan permodalan maupun layanan program pembinaan dan perlindungan bagi penerbit yang sedang merintis dan berkembang, termasuk penerbit pesantren,” katanya.

Diharapkan dengan sarasehan dan musyawarah nanti akan ada sejumlah terobosan baru termasuk pemasaran buku dengan format digital. “Seperti ada formulanya, akan bisa disimak pada acara tersebut,” pungkasnya.

Seperti disampaikan panitia, kegiatan ini diselenggarakan Ahad (8/11) di Museum NU Jatim, Jalan Gayungsari No. 35 Surabaya. Bagi pegiat penerbitan maupun pemerhati bisa hadir di acara yang akan berlangsung sejak 08.30 hingga 15.30 ini. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: