Lulusan Pesantren Ini Dirikan Koperasi Jasa Keuangan Syariah

Sumenep, Masyudi, lulusan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur berusia 42 tahun itu nyantri  di pesantren yang (ketika itu) diasuh oleh KH As’ad Syamsul Arifin tersebut. Bahkan gelar akademiknya (Sarjana Agama) juga diraih di pesantren tersebut.

Karena komitmen pengabdiannya untuk menyejahterakan masyarakat, kini ia dipercaya menjadi Direktur Utama Koperasi Jasa Keuangan Syariah Baitul Maal wa Tamwil Nuansa Umat (KJKS BMT NU), lembaga yang didirikannya.

Menurutnya ceritanya, setelah cukup lama nyantri, akhirnya Masyudi pulang kampung, yakni di Desa Gapura Tengah, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep. Di awal-awal kehadirannya di masyarakat, Masyudi mencoba menerapkan ilmunya dengan menjadi guru,  bahkan  akhirnya ia mendapatkan sertifikasi guru. 

Namun  perasaannya selalu gundah mana kala melihat kehidupan ekonomi masyarakat sekitanya banyak yang susah. Mata pencaharian masyarakat  Gapura sebagian besar adalah bertani (tembakau). Ada juga yang bekerja sebagai buruh, pedagang kecil, menekuni kerajinan genteng dan lain sebagainya. Kalau petani tembakau, secara ekonomi sudah lebih dari cukup, tapi bagiamana dengan yang lain. Itulah yang kerap jadi pemikrian Masyudi. Maka akhrinya ia memutuskan untuk mendirikan koperasi.

“Sasaran awal memang memperkuat permodalan pedagang-pedagang kecil dengan sistem bagi hasil sesuai syariah Islam,” ucapnya kepada .

Akhirnya tahun 2004, koperasi tersebut resmi diluncurkan di kantor pusat, di Desa Gapura. Menurut salah seorang pengawas KJKS BMT NU, Kiai Syahid, sejak awal koperasi tersebut akan diberi nama Nahdaltul Ulama (NU). Sebab, sasaran keanggotaan koperasi adalah warga NU, karena mayoritas penduduk Madura  adalah warga NU. 

“Ketika didirikan modal awalnya hanya Rp. 400 juta dengan 17 orang anggota. Sekarang dana yang berputar sudah mencapai  Rp. 52,7 miliar , dengan 161.000 anggota,” ucapnya.

Saat ini, KJKS BMT NU sudah mempunyai 17 kantor cabang yang tersebar dari 5 kabupten, termasuk di Kabupaten Jombang dan Jember. Bahkan dalam waktu dekat, di Jember akan didirikan lagi dua kator cabang dan di Bondowso satu kantor cabang. Semua pendirian dan pengeolaan kantor cabang KJKS BMT NU, Masyudi mensyaratkan harus ada keterlibatan dan dukungan PCNU dan MWCNU. 

“Di setiap kecamatan yang didirikan kantor cabang, memang harus direkomendasi ketua MWCNU, karena mereka yang punya jama’ah,” jelasnya. (Aryudi/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: