Mahasiswa dan Santri di Solo Serukan Perdamaian untuk Negeri

Surakarta, Sejumlah kelompok aktivis mahasiswa dan santri di Solo menyerukan aksi damai di Taman Sriwedari, Surakarta, Jawa Tengah. Aksi ini dilakukan pada Kamis (24/9) seiring dengan peringatan Hari Raya Idul Adha 1436 H. Gerakan Aksi Damai ini merupakan upaya menyerukan perdamaian bagi warga negeri ini.

Koordinator Aksi, Imam, menyatakan bahwa aksi ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mencipta kedamaian di kalangan warga, khususnya ormas Islam. “Jangan sampai kota Solo terjadi kekerasan, baik dalam isu etnis maupun agama. Kasus Tolikara jangan sampai terulang di kota Solo, maupun kota-kota lainnya,” terang Imam, dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Hayatul Qur’an IAIN Surakarta, yang didukung oleh Penerbit Pustaka Compass.

Imam menjelaskan bahwa, aksinya ini mengundang dan melibatkan beberapa komunitas mahasiswa dan pelajar di kawasan Solo. “Kami mengundang beberapa aktivis dari komunitas kampus, yang memang memiliki konsentrasi yang sama kepada kami. Selain itu, perwakilan santri dan pelajar dari beberapa pesantren, juga turut menjadi bagian dari Aksi Damai yang kami selenggarakan. Pesantren as-Salam dan Ngruki juga kami undang,” terang Imam.

Sebagai koordinator aksi, Imam menyatakan bahwa, kelompok yang menyerukan perdamaian perlu bersuara dan menyatakan pendapatnya di depan publik, untuk mengajak kebaikan. “Ini bagian dari dakwah yang sangat penting, dengan menyeru pada aspek amar ma’ruf. Sudah saatnya warga Indonesia yang cinta damai berani bicara, berani menyatakan pendapatnya. Jangan sampai kalah dengan mereka yang menjadi teroris dan berpikir radikal. Kasus Tolikara sudah cukup, jangan sampai terulang lagi,” tegas Imam.

Imam menyatakan bahwa, memang aksi ini dilakukan beriringan dengan Hari Raya Idul Adha. “Kami ingin merefleksikan Idul Adha sebagai pesan damai bagi kaum muslim di seluruh penjuru negeri. Idul Adha adalah momentum untuk meninggalkan egoisme personal dan meminggirkan kekerasan. Justru, kita harus mengorbankan perasaan egois dan fanatisme diri, agar terhindar dari aksi-aksi kekerasan dan perilaku radikal. Inilah Idul Adha secara kontekstual,” tegas Imam.

Sebelumnya, Senin (21/9) diselenggarakan diskusi dan silaturahmi antar ormas Islam serta komunitas pesantren di IAIN Surakarta. Diskusi dengan tema “Mempererat Ukhuwah untuk Kesatuan Bangsa” itu merumuskan kesepakatan untuk menjaga kedamaian di lingkungan masing-masing, agar kota Solo , dan khususnya Indonesia selalu dalam keadaan tenang, tanpa aksi kekerasan.  Penerbit Pustaka Compass, berencana mendukung kegiatan halaqoh (sarasehan) dan AksiDamai di beberapa daerah, semisal Surabaya, Cirebon, Jakarta dan beberapa kota lain. (Huda/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: