Mahasiswa UNU NTB “Diformat” Bisa Baca Al-Quran dan Kitab Kuning

Mataram, NU Online
Sebagai perguruan tinggi jam’iyyah keagamaan terbesar di Indonesia, Unversitas Nahdlatul Ulama (UNU) Nusa Tenggara Barat (NTB) menargetkatkan mahasiswa-mahasiswi dan segenap alumninya “diformat” memiliki ciri khas tersendiri.

Wakil Rektor I biagian Akdemik dan Kemahasiswaan UNU NTB DR. H. Adi Fadli, MA mengatakan, hal itu dilakukan sejak Seleksi Penerimaan Mahasiwa Baru (SPMB). Mereka harus mengikut tes tulis dan membaca Al-Qur’an. Tujuannya mengetahui pemahaman dan kemampuan mereka terhadap kitab sucinya.

“Nanti akan dibagi atau dikelompokkan dalam pembinaannya secara khusus bagi yang tidak bisa sama sekali maupun yang sudah bisa. Bahkan yang sudah pasih sekali pun, baik tajwidnya maupun makhrajnya,” katanya kepada NU Online di kantor UNU NTB jalan pendidikan Nomor 6 Kota Mataram (28/5).

Menurutnya pria yang akrab disapa Pak Adi, mahasiswa-mahasiswi nanti akan menempuh materi khusus seperti Aswaja dan ke-NU-an. “Ini akan menjadi materi wajib semua Prodi,” tegasnya.

Selain itu, bagi mahasiswa yang tinggal di asrama UNU akan dibina agar bisa menghafal Al-Qur’an, baca kitab kuning, dan kitab-kitab klasik lainnya.  

Bagaimana jika nanti ada yang tidak masuk asrama? Menjawab pertanyaan itu, ia mengatakan, semua mahasiwa yang beragama Islam, harus bisa baca Al-Qur’an karena di kampusnya nanti akan mendapatkan materi itu.

Dengan demikian, lanjut dia, mahasiswa mahasiswi UNU NTB akan memiliki ciri khas tersendiri ketika keluar dari UNU ini seperi bisa Baca Al-Qur’an, Baca kitab kuning dan yang terpenting mamahami ASWAJA serta pola pikir NU.

Di samping itu, mereka akan menjalani tes kesehatan. Jika ada yang memiliki penyakit yang menular maka akan ditangani secara khusus agar tidak menyebar kepada mahasiswa lainnya.

Di asrama khusus mahasiswi, mereka akan dibina oleh para guru, ustdz, dan dosen perempuan. Sementara mahasiswa akan diajari oleh laki-laki pula.

Perlu diketahui, kata Pak Adi, bahwa UNU NTB juga terbuka bagi mahasiswa dan mahasiswi agama lain. Mereka akan menerima materi agama sesuai keyakinannya termasuk saat tesnya. “Akan kami datangkan tokoh agama mereka masing-masing,” katanya. (hadi/abdullah alawi)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: