Majalah Arwaniyyah Angkat Tema “Maksiat Membawa Rahmat”

Kudus, Pasca vakum selama dua tahun, kini media cetak yang diterbitkan oleh Yayasan Arwaniyyah Kudus, Jawa Tengah, hadir kembali. Pada edisi ke-12 ini majalah Arwaniyyah yang memiliki jargon Membangun Generasi Qur’ani mengangkat tema “Maksiat Membawa Rahmat: Mengelola Dosa Menjadi Energi Spiritual”.

Selain berupa kajian leteratur Islam dengan tema tersebut, majalah yang kerap disapa Marwa itu juga mengupas biografi KH M Arwani Amin Sa’id yang selama hidupnya mengabdi untuk Al-Qur’an, transkripsi pengajian yang diasuh oleh Mustasyar PBNU KH M Sya’roni Ahmadi tentang surga dalam bertetangga, serta mauidhoh dari KH M Ulinnuha Arwani. Rencananya, Marwa akan terbit tiga bulan sekali.

Agus Abdul Mu’thi Irhamna, Sekretaris Redaksi Marwa mengungkapkan bahwa untuk memulai menerbitkan kembali majalah tersebut butuh manajemen redaksi yang mapan dan semangat kesabaran. “Karena baru memulai maka kita pelan-pelan dulu. Kemarin kami mencetak hanya seribu eksemplar dan ternyata ludes, Alahamdulillah. Majalah kami sebar untuk para santri dan juga kami komersilkan untuk masyarakat umum sebagai bacaan religi yang penuh hikmah ilmu. Kini kami beranikan diri mencetak ulang seribu lagi,” terang Irhamna yang telah nyantri selama empat tahun di pondok putra Yanbu’ul Qur’an Pusat.

Marwa yang dua tahun lalu terbit skala nasional dengan mengupas tema tentang kekufuran laku konsumerisme itu dibedah pada Rabu sore (15/7) di aula yayasan Arwaniyyah, kompleks pondok tahfidh Yanbu’ul Qur’an asuhan KH M Ulil Albab Arwani, Rois Syuriah NU Kudus yang juga menantu KH M Sya’roni Ahmadi.

Diskusi bedah majalah tersebut mengundang seluruh santri yayasan dan perwakilan santri dari segenap pondok pesantren di Kabupaten Kudus. “Untuk narasumber dalam bedah majalah nanti kami memanggil Gus Faiz dan Pak Said,” kata pemred, M Salahuddin Al-Ayyuubi kepada NU Online saat persiapan acara.

H Ahmad Faiz Irsyad yang dimaksud adalah pengajar muda di Selcuk University Turki, yang juga menjabat sebagai Rois Syuriah Pimpinan Cabang Istimewa NU (PCINU) di sana. Sedangkan Nur Said yakni dosen STAIN Kudus sekaligus Ketua Lajnah Tasyrih wan Nasyr NU Kudus. Keduanya merupakan intelektual muda NU asli Kudus. Agenda bedah majalah itu dirangkai dengan khataman Al-Qur’an pada pagi harinya, dan buka puasa bersama saat maghrib usai diskusi. (Istahiyyah/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: