Melalui Media Sosial, Santri Siap Cegah Radikalisme

Mataram, Perjuangan mencegah dan melawan paham radikalisme di dunia maya berupaya terus dilakukan oleh para santri melalui media sosial. Hal ini mereka lakukan dengan menghasilkan berbagai produk hasil Workshop Countering Violent Extremism (CVE), 9-11 September 2015 di Mataram, NTB.

Dari lima kelompok yang dibentuk, para peserta yang sebagian besar didominasi oleh santri dan mahasiswa ini menciptakan berbagai akun di media sosial, video kampanye damai, hingga memproduksi berbagai macam artikel.

“Dari kegiatan ini, para santri, mahasiswa, dan aktivis muda diajak untuk ikut aktif memberikan kontribusi pemikiran moderat, damai, dan toleran di media dan media sosial untuk mencegah berkembangnya paham radikalisme,” ujar Muhammad Haidar, Jum’at (11/9), santri Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara yang kini mengambil jurusan Digital Communication di Surya University.

Dari kampus yang berbasis riset dan teknologi tersebut, ada empat santri yang mengikuti kegiatan Workshop, diantaranya, Muhammad Irsan Rasyad, santri Pesantren An-Nur Az-Zubaidi, Konawe Sulawesi Tenggara mengambil jurusan Digital Communication, Afiq Herdika Sulistya, santri Pesantren al-Ikhlas Pati yang mengambil jurusan Physics Energy Engineering, Muhammad Syafiuddin, santri Pesantren At-Tahdzib Rejo Agung Ngoro Jombang, mengambil jurusan Human Computer Interaction, dan Haidar sendiri.

Senada dengan Haidar, Nurul Fauzi, santri Pesantren Al-Iman, Bulus, Purworejo yang kini mengambil jurusan Hukum di Universitas Indonesia (UI) mengatakan, bahwa masih banyak dari mahasiswa yang cenderung pasif terkait kampanye damai di media sosial.

“Dari kegiatan workshop ini, saya akan menularkan pengalaman ke teman-teman agar lebih mengoptimalkan media sosial untuk menyebarkan informasi dan pesan damai, serta toleransi,” ujar Fauzi yang kini aktif sebagai Ketua KMNU UI.

Dari kegiatan yang difasilitasi oleh BNPT dan FKPT NTB ini, para peserta workshop berusaha memahami pencegahan radikalisme dengan pendekatan CVE. “Pendekatan berbasis pencegahan ini dikembangkan di berbagai negara, termasuk Indonesia,” terang Imam Malik Riduan, salah satu Fasilitator workshop. (Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)