Memulai Kembali Ishari sebagai Banom NU

Surabaya, Pengurus Wilayah Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) Jawa Timur mengadakan rapat koordinasi (Rakor) perdana pada Ahad (22/11) di Pondok Pesantren Fatchul Ulum Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, pasca keputusan Muktamar Ke-33 NU di Jombang tentang kembalinya Ishari menjadi badan otonom NU.

Ketua PW Ishari Jatim Yusuf Arif mengatakan, rapat ini baru pertama kalinya diselenggarakan dan dihadiri oleh semua Pengurus Cabang Ishari se Jatim. “Menjadi Banom, bagi Ishari adalah sebuah cita-cita yang sangat tinggi, bahkan sudah mentok,” lanjutnya.

PW Ishari Jatim termasuk pendorong utama kembalinya Ishari sebagai banom NU. Hal itu dilakukan sejak sebelum Muktamar ke-33 NU digelar, mulai dari konsolidasi  hingga melobi para Pengurus Cabang NU se-Jatim, dan puncaknya adalah tampilnya Ishari di perhelatan akbar di muktamar NU di Jombang. Saat itu Ishari menampilakan dengan 1926 orang bershalawat di area Muktamar.

“Alhamdulillah, pembahasan Ishari di komisi organisasi dan pleno komisi lolos secara aklamasi tanpa ada sanggahan dari PCNU se Indonesia,” tegasnya.

Lantas apa yang akan dilakukan oleh PW Ishari Jatim. Arif mengaku beberapa minggu yang lalu, dirinya bersama Sekertaris dan Rais Majelis Hadi Ishari Jatim menemui Pengurus Besar NU di Jakarta dan ditemui oleh H Imam Aziz Ketua PBNU. “Imam Aziz mengatakan akan membahas ulang dengan para kiai dan kita disuruh menunggu hingga rapat pleno PBNU, nanti akan dikabari,” terangnya menirukan instruksi dari PBNU.

Pada intinya, PBNU mengiginkan Ishari juga menaungi beberapa seni hadrah Al-Banjari, mulai dari Al-Habsy, Ahbabul Mustafa, dan sebagainya. “Semua yang berhubungan dengan seni diminta Ishari menaunginya,” lanjutnya.

Rapat kordinasi ini memiliki agenda tunggal yaitu persiapan Munas Ishari. “Kita nanti akan membentuk tim untuk mempersiapkan munas itu, mulai dari administrasi, syarat-syarat menjadi banom, rancangan PD/PRT, dan lain sebagainya,” pungkas Arif saat ditemui NU Online setelah acara pembukaan.

Ishari pernah diresmikan menjadi salah satu lembaga binaan Syuriah di PBNU pada Muktamar ke-23 NU di Solo, lalu disepakati sebagai salah satu badan otonom NU Muktamar ke-29 NU tahun 1994 di Cipasung, Jawa Barat.

Dalam perjalanannya, kedudukan Ishari di tubuh NU cukup dinamis. Belum purna masa khidmah kepengurusan pertama sebagai badan otonom NU, organisasi yang menyelenggarakan Munas I di Pondok Pesantren Sunan Drajat tahun 1995 ini berubah sebagai lembaga binaan Lesbumi NU (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia NU).

Pada Muktamar Ke-32 NU di Makassar, Ishari dialihkan sebagai organisasi binaan lembaga tarekat di NU, hingga kian kaburnya posisi Ishari ketika lembaga tarekat itu berubah menjadi badan otonom NU, Jam’iyyah Thariqah Mu’tabarah an-Nahdliyah (Jatman).

Berdasaran hasil keputusan Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, Ikatan Seni Hadrah Indonesia Nahdaltul Ulama yang disingkat Ishari resmi menjadi badan otonom baru yang mewadahi anggota NU yang bergerak dalam pengembangan seni hadrah dan shalawat. (Rof Maulana/Mahbib)

Foto: Kiai Mahmud (Rais Majelis Hadi) didampingi oleh Ketua PW Ishari NU Jatim Yusuf Arif saat membuka acara Rakor
 

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: