Menag Minta Guru Besar Turut Kampanyekan Islam Indonesia ke Dunia

Jakarta, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin meminta para guru besar Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) menjadi agen penyebar Islam Indonesia ke dunia internasional. Menurutnya, dunia internasional masih menerima nilai-nilai Islam dari Timur Tengah. Hal itu ia sampaikan dalam acara Konferensi Guru Besar dengan tema ‘Meningkatkan Integritas dan Reputasi Akademik Guru Besar PTKI’ di Hotel The Media, Jakarta, Ahad-Selasa (29/11-2/12).

“Dalam konferensi ini saya titip bagaimana karya para guru besar PTKI bisa lebih keluar. Nanti Diktis (Direktorat Pendidikan Tinggi Islam) dan yang lain harus bisa membuat kanal atau media karya guru besar kita, sehingga bisa dibaca dunia luar,” ujar Lukman dalam sambutannya membuka Konferensi Guru Besar PTKI di Jakarta, Ahad (29/11).

Padahal, Lukman menambahkan, Indonesia mempunyai 415 guru besar yang saya yakin karyanya patut disampaikan ke dunia internasional. Ia menambahkan Islam Indonesia tidak begitu dikenal dunia luar dikarenakan kurangnya cara penyajian.

“Kita dinilai kurang mampu menyajikan Islam Indonesia seperti apa ke dunia luar, sehingga dunia luar kurang mengenal. Padahal Indonesia mempunyai term-term keislaman yang menemukan kontrksnya seperti islam nusantara dan islam berkemajuan,” jelas Putra Mantan Menteri Agama KH Syaifuddin Zuhri ini didepan para Guru Besar PTKI se-Indonesia.

Ia menceritakan pengalaman bertemu dengan pengamat islam internasional Martin Van Bruinessen. Menurutnya Martin memberikan kritik serius yang patut dicarikan solusi dalam forum konferensi ini. Martin, lanjut Lukman mengatakan, Islam Indonesia, yang sangat baik itu, ternyata tidak mampu mempengaruhi dunia barat, jadi barat mendapatkan nilai Islam masih dari Timur Tengah.

“Tapi Islam yang rahmatan lil alamin tidak terlalu dikenal oleh barat. Forum ini perlu merumuskan bagaimana menjawab kritik Martin Van Bruinessen itu,” tuturnya.

Lukman berpesan guru besar PTKI membuat cara penyajian Islam Indonesia ke dunia luar tidak dengan saling menghadap-hadapkan dengan negara lain. Semisal, ia mencontohkan perempuan di Indonesia boleh menyetir dibandingkan dengan Arab Saudi yang melarang perempuan menyetir mobil. “Nanti kita jadi jumawa merasa paling benar, padahal aturan disana sebenarnya sama,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Lukman ingin tahun depan Direktorat dibawahnya membuat rancangan penghargaan untuk guru besar yang membuat karya internasional. “Mulai tahun depan perlu ada semacam reward, mana yang paling produktif misalnya, karyanya unggulan, mana karyanya dibuat rujukan dunia luar jadi poin penilaian,” pungkasnya. (Syamsud Dhuha/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: