Mengambil Makna di Balik Perjalanan dari Madinah ke Makkah

Madinah, Satu demi satu calon jamaah haji dari berbagai negara yang berada di Madinah akan bergerak menuju Makkah sesuai kelompok terbang atau kloter masing-masing. Kesempatan ini bisa dijadikan refleksi perjalanan Nabi Muhammad di awal perkembangan Islam.

“Pagi tadi kami dan beberapa jamaah melakukan perjalanan dari Madinah al-Munawwarah ke Makkah al-Mukarramah,” kata H Farmadi Hasyim, Kamis (10/9) waktu setempat.

Kasi Haji Kemenag Surabaya yang tergabung dalam kloter 25 ini mengemukakan bahwa dari perjalanan tersebut para jamaah dapat melakukan refleksi terhadap sejumlah peristiwa di awal perkembangan Islam. “Ada peristiwa Fathu Makkah atau penaklukan Makkah, demikian juga hijrah Nabi Muhammad dari Makkah menuju Madinah,” kata Farmadi Hasyim.

Selama perjalanan, para jamaah akan melihat dan merasakan jauhnya jarak yang harus ditempuh, demikian juga tandusnya alam. “Bisa dibayangkan, dengan mengendarai unta dan sesekali berjalan kaki, berapa lama waktu yang harus ditempuh baginda nabi dan para sahabat untuk tiba di Makkah,” ungkap Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah  Nahdlatul Ulama Jawa Timur ini.

“Kami dan rombongan dilayani dengan bus berukuran besar dan nyaman, ditambah fasilitas lain,” katanya. Padahal selama perjalanan, jamaah hanya bisa menemukan bongkahan batu dan tandusnya tanah, serta cuaca yang demikian ekstrim, lanjutnya.

Hal tersebut hendaknya menjadi pelecut dan pemantik semangat umat Islam yang berkesempatan menunaikan ibadah haji dan juga umrah untuk berjuang menegakkan panji agama dalam kehidupan. “Dengan berdarah-darah, penuh peluh, kekurangan bekal, serta cuaca yang kurang bersahabat, namun para sahabat didampingi Nabi Muhammad tetap berkhidmat demi Islam,” kata calon doktor di Universitas Islam negeri Sunan Ampel Surabaya ini.

“Perenungan dan refleksi inilah yang mendesak untuk terus digelorakan umat Islam usai menunaikan ibadah haji maupun umrah,” terangnya. Sehingga akan ada perbedaan kwalitas antara sebelum dan usai melaksanakan dua ibadah tersebut, lanjutnya.

“Karenanya sangat beralasan kalau kemudian balasan bagi mereka yang hajinya mabrur adalah surga,” kata Ustadz Farmadi sembari menyitir salah satu hadits. Karena dari perenungan dan pengambilan pelajaran itulah, maka mereka yang umrah dan haji akan memiliki kelebihan dalam kehidupan keseharian.

“Seluruh rangkaian ibadah selama di tanah suci sarat dengan pesan moral. Karenanya, mereka yang bisa merengkuh nilai tersebut dan kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan tentu layak mendapat jaminan surga,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)