Menolak Keragaman Indonesia Berarti Melawan Sunatullah

Manado, NU Online
Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin mengatakan keragaman Indonesia bisa dikatakan nyaris sempurna. Ragam dalam budaya, agama, sukku bangsa, bahasa, sampai flora dan faunanya. Keragamana tersebut merupakan anugerah luar biasa dari Allah SWT.

“Keragaman adalah sunatullah, given, karenanya pikrian, kehendak menyeragamkan realitas kemajemukan sesunguhnya boleh dikatakan melawan, menentang kehendak tuhan,” katanya saat membuka konferensi tahunan ilmiah internasional atau Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) di Manado, Sulawesi Utara, Kamis malam (3/9).  

Menurut dia, Tuhan menghendaki keragaman di tengah-tengah umatnya supaya bisa saling melengkapi dan menyempurnakan. Banyak ayat Al-Quran tentang keragaman. Kalau saja Allah menghendaki menciptakan kita semua umat yang satu, maka Allah bisa. Tapi Allah tidak melakukan itu,” tambahnya.  

Ia menambahkan, melalui keragaman itu, manusia hadir di muka bumi diperintahkan mengelolanya atau disebut dengan khalifah. Dengan konsep khalifah, manusia dituntut mampu menjalani keragaman yang mendatangkan kamaslahatan. “Oleh karena itu yang diperlukan dari kita dalam menghadapi keragaman bukan menyeragamkan, tapi menjaga kemajemukan itu.”

Dalam menjaga keragaman, Indonesia harus bersyukur pada para pendahulu yang telah mengajarkannya. Misalnya melalui istilah tepo seliro yang mengandung dua unsur, yaitu toleransi dan tenggang rasa.

Toleransi, kata dia, adalah bagaiamana untuk bisa menerima, menghormati perbedaan yg dimilki orang lain, meski tidak menyetujuinya.  Sementara Tenggang rasa adalah kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain dari ucapan dan tindakan kita.

“Ini harus dipelihara dirawat, menyikapi perbedaan-peredaan itu,” tegasnya pada kegiatan bertema “Harmoni in Diversity: Promoting Moderation and Preventing Conflicts in Socio-Religious Life” tersebut berlangsung dari Kamis (3/9) sampai Ahad (6/9).

Ia kemudian mengutip ungkapan tokoh legendaris dari Sulawesi Utara, Sam Ratulangi, yang mengatakan, manusia belum bisa dikatakan sebagai manusia kalau belum mampu memanusiakan manusia. (Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)