Minus Petugas, Muslimat NU Gebog Ajari Perempuan Rawat Jenazah Wanita

Kudus,
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Gebo Kabupaten Kudus mengadakan pelatihan merawat jenazah putrid di KB Muslimat NU Tsuwaibatul Islamiyyah, Karangmalang, Gebog, Ahad (20/12) pagi. Pelatihan dihadiri 70 peserta dari pengurus dan anggota PAC serta Ranting Muslimat NU Kecamatan Gebog.

Pelatihan yang menghadirkan Nyai Mubasyaroh Padurenan ini bukan program kerja tahunan. Pengurus sengaja mengadakannya karena prihatin atas kondisi minusnya kalangan ibu yang mampu merawat jenazah perempuan sesuai dengan kaidah syariat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Kalaupun ada ibu yang paham dengan baik soal tata cara perawatan jenazah putri, ia sudah sangat renta.

“Pelatihan semacam ini memang bukan termasuk program kerja tahunan kami dan ini baru yang pertama kali dilaksanakan. Sudah banyak sesepuh putri yang mampu mengurus jenazah meninggal. Kalaupun ada, kini sudah jarang sekali,” ujar Ketua Muslimat NU Gebog Zahroh.

Bagaimanapun masyarakat membutuhkan generasi perempuan yang berani, mau dan mampu merawat jenazah putri, sejak memandikan, mengafani, hingga ta’ziyah yang benar sesuai syariat. Apalagi peran posisi sebagai modin desa selalu dipegang oleh laki-laki. Padahal, sebagian tugasnya adalah memandu hingga memandikan jenazah di masyarakat.

Pada pelatihan itu, Nyai Mubasyaroh menyampaikan setidaknya tiga hal, tata cara memandikan mayit, tata cara mengkafani mayit, dan tata cara ta’ziyah.

“Di sini kami menyiapkan generasi penerus ibu-ibu dalam berketerampilan merawat mayat perempuan. Jangan sampai nanti malah yang memandikan adalah laki-laki, kecuali muhrim. Kemudian penyebarluasan dari pelatihan ini kami serahkan kepada ranting-ranting yang hadir, biar mereka kembangkan di wilayahnya masing-masing” lanjut Zahroh.

Sementara itu, pihak ranting pun berencana menyebarkan ilmu dari pelatihan ini. “Nanti ketika pertemuan-pertemuan kami akan sisipkan pengetahuan merawat jenazah ini ke teman-teman di ranting. Biar tidak hanya pengurus saja, tapi semua anggota juga bisa,” terang Hj Rofi’atun Abdul Jalil, peserta dari ranting desa Gribig.

Pengurus KB Nor Farida menyambut positif atas keprihatinan kemauan Muslimat NU Gebog. “Kalau di kota-kota, cari ibu-ibu yang bisa memandikan jenazah itu malah sampai ke daerah lain. Kita memang harus mau cari generasi yang lebih muda. Meski kadang muncul rasa takut-takut, tapi harus ada. Sebab ini fardlu kifayah,” tutur Nor Farida.

Nyai Mubasyaroh dalam penyampaiannya juga menjelaskan hal-hal sering dilakukan tetapi tidak perlu saat merawat jenazah. Hal yang tidak perlu antara lain memangku jenazah saat memandikan, memakai perhiasan emas di tangan saat memandikan, dan menghias wajah jenazah dengan pelbagai make up seperti bedak dan celak saat mengafaninya. (Istahiyyah/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)