Muktamar NU Diharapkan Perhatikan Persoalan Intoleransi

Jombang, NU Online
Nahdlatul Ulama (NU) merupakan ormas Islam besar di Indonesia yang meyakini NKRI sebagai harga mati. Itu menjadi stempel yang diamini sejumlah pihak. Karena itu, harapan NU pada Muktamar Ke-33 untuk memerhatikan persoalan intoleransi, mengemuka dari sejumlah pihak.

“NU selama ini dikenal sebagai organisasi masyarakat sipil Islam moderat. Kesungguhannya ini dipertegas dalam Muktamar kali ini melalui jargon Islam Nusantara. Hal ini tentu melegakan mengingat banyak yang berkeliaran ingin menghancurkan keberagaman selama ini terbangun,” ujar Ketua Umum Aliansi Bhinneka Tunggal Ika Nia Sjarifudin di Jombang, Jawa Timur, Ahad (2/8).

Untuk diketahui, saat pembukaan Muktamar NU ke-33 berlangsung di Alun-alun Jombang, puluhan aktivis dan tokoh lintas agama berkumpul. Mereka menggelar silaturahmi dan dialog kultural di De Nala Foodcourt, 500 meter dari arena pembukaan. Acara refleksi kebangsaaan berlangsung mulai pukul 19.30 – 22.00 WIB, Sabtu (1/8), tersebut mengambil tema “Meneguhkan Indonesia Sebagai Rumah Bersama”.

Harapan sebagaimana Nia terhadap NU juga disampaikan oleh Bhikkhu Wirya dari Mahavihara Buddha Trowulan. Dia mengharapkan NU mampu merumuskan rekomendasi konkrit agar kesatuan dan persatuan bangsa ini tetap terjaga.

“Islam Nusantara diusung pada Muktamar ke 33 ini tentu diharapkan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa seperta pada Muktamar di Situbondo yang menegaskan Pancasila dan UUD 45 sebagai fondasi yang tidak boleh diganggu gugat,” katanya. 

Selama ini praktek intoleransi kerap menimpa kelompok minoritas. Pengusiran, pelarangan ibadah, pengrusakan dan diskriminasi kerap diterima sekte atau kelompok Penghayat/kepercayaan.

Berkaitan dengan intoleransi beragama yang ditumbuhkan kelompok-kelompok tertentu, Cendekiawan NU yang juga pengasuh Pesantren Darut Tauhid Cirebon KH Husein Muhammad, mendukung Muktamar NU kali ini memberi perhatian khusus pada persoalan intoleransi.

“Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas situasi intoleransi yang terus marak di Indonesia. Berbagai praktik kekerasan berbasis agama dan keyakinan menunjukkan lemahnya komitmen pemerintah,” ujar Aan Anshori, kordinator acara kegiatan itu.

Acara diisi dengan pembacaan puisi yang menegaskan bahwa Indonesia ialah negara yang dalam konstitusinya menghargai keberagaman.

Sebagai penutup acara, peserta konsolidasi jaringan lintas iman menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama pengunjung Foodcourt. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)