Nahdliyin Lampung Gelar Dialog Menyoal BPJS

Lampung Timur, Gamelan Kiai Jamus Kalimosodo yang dimotori Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Lampung SAM Arifien menggelar dialog kebudayaan menyoal Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), Selasa (20/10), pukul 19.30 WIB, di Rumah Hati Lampung, Dusun IV RT/RW 014/007 Desa Margototo, Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur.

“Tema yang diangkat Wasiat Aji BPJS. Menghadirkan Kepala Layanan Operasional BPJS Lampung Timur Apra Hamsyar Tifyan,” kata Arifien, di Lampung Timur, Selasa (20/10).
Ia menjelaskan, di Provinsi Lampung saat ini beredar berita sedang diluncurkan pembagian kartu ‘kewarganegaraan’ BPJS edisi II oleh Pemerintah.

“Tapi barangkali ada di antara Anda yang tidak termasuk atau masuk ke pintu rumah Anda. Diberita tersiar itu pula, Januari 2019 yang akan datang Anda akan dipaksa menjadi warga negara ‘haram’ bagi negara, apabila Anda atau anggota keluarga Anda tidak berkartu BPJS,” tuturnya.

Tapi dari cerita kanan kiri, ujar dia menambahkan, undang-undang soal ini masih sumir-sumir sedap. “Selain itu, sempat juga tersiar kabar bahwa MUI sempat mengharamkan produk iuran jaminan sosial yang kadarnya mirip-mirip pola asuransi itu,” paparnya.

Berita sinis lainnya yang juga merebak, bahwa BPJS adalah akal-akalan pemerintah dengan aji ‘rogoh sukmo’ dalam rangka memanis-maniskan program subsidi. “Setidaknya kesan itu yang ditangkap dari kritik tulisan Blognya Ye Arifin. Tapi ada lho, satuan-satuan kecil warga pinggiran yang coba menggagas keguyuban empati sosial, dengan ancang-ancang membentuk arisan BPJS segala. Makluk apa itu Arisan BPJS?” ia menjelaskan.

Di bulan Suro atau Muharam, yang penuh hikmah dan berkah bagi siapapun yang teliti terhadap hidupnya, laku prihatin (pelajaran intisari sejarah dan ikhtisar Ilahiah — dimana Tuhan memprokamirkan bahwa bulan Muharam adalah salah satu dari empat bulan istimewa dari jumlah 12 bulan yang ditetapkan.

Maka dalam perspektif teologis maupun empiris: sosial, ekonomi, kebudayaan, dan kebijakan nagari, hatta gagasan warga pinggiran tersebut di atas tersampai pada titik simpul ikhtiar untuk menjamas (memandikan/membersihkan) keris pusaka (kepribadian, akal dan hati nurani) dengan menggelar dialog kebudayaan menyoal BPJS, demikian SAM Arifien. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: