Naqsyabandiyah Sampang Idul Fitri Ikut Pemerintah dan NU

Sampang, NU Online 
Humas Silaturrrahim Ikhwan Akhawat dan Simpatisan Thariqat An-Naqsyabandiyah Gersempal (SITQON) Omben Sampang, yakni  KH M. Shohibuddin memastikan akan mengikuti keputusan Pemerintah RI dan NU dalam menentukan 1 Syawal 1436 H.

Menurutnya, berdasarkan siaran pers Selasa (14/7), opsi tersebut sengaja dipilih oleh jemaah tarekat Naqsabandiyah guna menyelarasakan pandangan dengan pemerintah, apalagi sejauh ini Nahdatul Ulama (NU), yang mejadi panutan mereka. 

Juga, sambung dia, NU menjadi salah satu organisasi masyarakat (ormas) yang dipercaya untuk ikut andil dalam penentuan 1 Syawal dengan melalui rukyatul hilal (melihat bulan).

Menurut kajian tim Falakiyah/Hisab SITQON memperkirakan Idul Fitri tahun ini jatuh pada hari Jum’at 19 juli 2015 apabila posisi hilal tidak terhalang oleh mendung.  

Jika demikian, kemungkinan besar bisa dirukyah bil fi’lih (Ijtima’ akhir Ramadhan 16 Juli 2015 pada hari kamis pukul 08.24 WIB). 

Dengan melihat posisi ijtima’ ini, maka posisi hilal setelah matahari terbenam diperkirakan 3 derajat lebih dan tertinggal sekitar 13 menit 33 detik. “Namun demikian kita tetap menunggu keputusan hasil sidang istbat,” masih berdasarkan siaran pers Humas SITQON.

Pernyataan ini juga dipertegas oleh KH.R. Syaifullah Ja’far, Ketua Bagian Pendidikan dan Dakwah SITQON.Ia juga meminta agar semua umat Islam di Madura tidak terpancing pernyataan pihak-pihak tertentu yang berencana menggelar Lebaran lebih awal dari keputusan pemerintah.

Dalam pernyataan yang sama, KH Syamsul Arifin, KH Buchori Maksum, menyatakan NU menjadi salah satu patokan yang selama ini seirama dengan jemaah tarekat Naqsabandiyah Mudhariyah Al Wahidiyah Gersempal Sampang. 

“Oleh sebab itu, kami akan mengikuti NU dan pemerintah dalam menentukan 1 Syawal atau Lebaran,” tutur salah seorang dari mereka. 

Sebab mereka meyakini, keputusan yang akan dikeluarkan pemerintah adalah keputusan yang mengakomodiasi perwakilan ulama, sejumlah ormas seperti NU dan juga Majelis Ulama Indonesia (MUI). (Red: Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: