NU Diminta Kian Aktif Berkontribusi untuk Indonesia

Bandung, Wakil Ketua Pengurus Wilayah Jawa Barat, Kiagus Zaenal Mubarok berpandangan, organisasi Nahdlatul Ulama saat ini menghadapi banyak tantangan. Kiprah organisasi Islam dengan jumlah massa terbesar di dunia ini harus mampu menunjukkan taji untuk berkontribusi secara sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, bahkan kontribusi pada tercapainya percepatan pembangunan negara Republik Indonesia.

“NU tidak boleh hanya sebatas besar dari jumlah massa. NU tidak boleh hanya punya kantor dan struktur kepengurusan, melainkan harus lebih aktif mengambil peranan-peranan strategis dalam ruang publik kehidupan sosial kemasyarakatan,” paparnya, Sabtu (22/8).

Ditemui NU Online seusai mengisi acara bedah buku Membela Kebabasan Beragama karya Budhi Munawar Rahman di Aula SMP ST Ursula, Jalan Anggrek Bandung, pria yang juga dosen di Universitas Padjajaran Bandung itu menilai bahwa Muktamar NU awal Agustus lalu merupakan momentum agar NU berbenah dari sisi organisasi.

“Saya yakin Pak Kiai Said Aqil Siroj akan lebih serius dan tajam dalam menguatkan organisasi karena memang NU ini mengalami banyak problem dalam organisasi. Salah satu problemnya ialah kemampuan konsolidasi dan keaktifan para pengurus di tingkat Pusat, Wilayah dan juga Pengurus Cabang,” terangnya.

Menurut Kiagus, untuk pembenahan pengurus wilayah misalnya, harus menjadi barometer utama jika NU hendak mengalami kemajuan. Pengurus Wilayah merupakan jembatan untuk kemajuan NU di tingkat Cabang, karena itu para pengurusnya harus aktif dan kreatif. “Bukan sekadar memasang namanya setelah konferwil, sesudah itu tak pernah aktif. Itu yang saya anggap problem utama,” kritiknya.

Perbaikan PWNU Jawa Barat

Tahun depan, menurut Kiagus, PWNU Jabar akan mengadakan konferensi wilayah dengan memilih pengurus baru. Pada konferwil itulah secara alamiah akan terjadi perbaikan. Banyak sumber daya manusia di luar struktur NU yang bagus-bagus dan diharapkan aktif mendorong pengurus formal.

“Selama ini para pengurus wilayah NU Jabar berjalan agak timpang. Untung saja ketua PWNU Jabar (Dr. H Eman Suryaman) mobilisasinya tinggi melesat melakukan kegiatan-kegiatan secara konkret. Ini sesuatu yang bagus secara personal, tetapi dalam organisasi urusannya bukan personal, melainkan harus menukik ke wilayah kolektif kerja,” terangnya.

Kiagus juga sedang serius memikirkan beragam kegiatan untuk NU Jawa Barat karena selama ini nyaris tidak aktif mengkomunikasikan gerakan dakwah dan kegiatan sosial melalui ruang publik. Akibatnya banyak warga NU yang merasa tidak mendapatkan informasi dan tidak bisa berpartisipasi.

“Ke depan para pengurus harus sinkron dalam bekerja. Tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan semua wakil ketua harus berada di garis depan mobilisasi. Jika tidak demikian kasihan masyarakat, kasihan anak-anak muda NU yang tidak bisa menyalurkan kreativitasnya melalui NU karena pengurus teras di PW tidak menjadi penggerak,” terangnya. (Yus Makmun/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)