NU Itu Besar, Tapi Manfaatnya Belum Sebesar Potensinya

Badung,  NU Online
Nahdlatul Ulama itu besar, bahkan sangat besar. Tapi manfaatnya tidak sebesar potensinya. Banyak warga NU merasa kurang cinta atau kurang tertarik aktif di NU dengan menjadi anggota, karena merasa NU kurang memberi manfaat.

Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri mengistilahkan, NU itu ibarat pisau penyukur yang sangat tajam, tapi cuma dipakai mengiris bawang. Orang NU sendiri banyak yang tidak menyadari betapa besarnya kekuatan NU yang menurut KH Wahab Hasbullah benar-benar meriam. Bukan mercon bumbung.

Hal itu pula yang menyebabkan banyak anak-anak NU yang masuk atau terpengaruh organisasi lain, bahkan organisasi yang berseberangan dengan NU. Itu karena mereka merasa mendapat manfaat di tempat lain tersebut, sedangkan NU dirasa kurang atau tidak memberi manfaat padanya.

Tak sedikit orang NU yang merasa bahwa NU hanya mendekati mereka hanya ketika ada Pemilu. Di sisi lain, para pengurus NU dan unit-unitnya (lembaga, lajnah maupun badan otonom) dinilai kurang memenuhi harapan umat tentang sosok yang sidiq, amanah, tabligh dan fathohah.

Padahal, dengan kebesaran NU, yang warganya menurut survey LP3ES tahun 2012 berjumlah 80 juta orang, tentu apa saja bisa dilakukan oleh NU. Tidak ada organisasi di dunia ini yang jumlah anggotanya sebanyak itu.

Keprihatinan tersebut diudoroso dalam Halaqoh  Nasional Fiqih Organisasi yang digelar oleh Majma’ Buhuts an-Nahdliyah (MBN) di Hotel Lor In kawasan Pecatu Indah Resort, Bali, Sabtu, (11/12). Halaqoh  diikuti lima puluhan anggota MBN dan para kyai se-Pulau Bali.

Narasumber pertama dalam Halaqoh  ini, KH As’ad Said Ali mengatakan, negara ini bahkan dunia internasional, sangat bergantung kepada NU. Sebenarnya NU sangat diperhitungkan dan telah banyak memberi manfaat untuk negara, untuk Islam maupun untuk dunia. Namun jika menengok ke dalam NU sendiri, masih banyak kelemahan dan kekurangan.

“Untuk inilah kita buat halaqoh ini, untuk menyusun Fiqih Organisasi,” ujar mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara ini.

As’ad mengungkapkan, pemerintah manfaat NU bagi republik tidak lagi perlu ditanya. Sejak NU berdiri hingga kini, NU menjaga negara ini dari masalah besar maupun kecilnya. Manfaat  globalnya juga sangat banyak.

Yang terbaru, ujar dia, NU menata warga dan pemerintah Afghanistan mengorganisir ulama dan umaro afghanistan dalam ikatan perdamaian a la NU. Berbekal   ajaran ahlus sunnah wal jamaah (aswaja), NU menginisiasi lahirnya Nahdlatul Ulama Afghanistan yang diantara tokoh pendirinya adalah mantan presiden Afghanistan almarhum Burhanuddin Rabbani. NU Afghanistan (NUA), kata As’ad, bukan sebagai Cabang Istimewa NU, melainkan asli buatan ulama Afghanistan sendiri. NU sebagai semacamnya.

“Pendirian NU Afghanistan itu dilanjutkan dengan pengiriman mahasiswa dan santri untuk belajar tentang Islam aswaja di Indonesia,” tuturnya.

Karena telah diakui peran besarnya di dunia luar, ia harapkan segera dibuat Fiqih Organisasi, yang nantinya menjadi pedoman baku pengelolaan organisasi NU. Termasuk untuk pedoman membuat organisasi baru semacam NU di negara lain.

Perlu Kemandirian
As’ad yang menjadi tokoh utama yang mewakili NU dalam pendirian NUA mengatakan, NU harus berbenah menata organisasinya. Prioritasnya membangun kemandirian.   

Untuk membangun kemandirian ini, As’ad menawarkan dua cara. Pertama menghidupkan lagi ianah syahriyah dan sanawiyah (iuran bulanan dan tahunan) anggota NU. Kedua, membuat unit usaha dan sebuah bank.

“Misal kita pakai model iuran, jika setiap orang NU Rp  1.000, sudah terkumpul uang Rp 80 miliar setiap bulan!. Ini jumlah yang tidak kecil,” tegasnya.  

Maka menurutnya, perlu dipikirkan untuk menghimpun iuran seperti dulu pernah diinisiasi Rais Am PBNU KH Abdul Wahab Hasbullah.

Adapun melalui usaha, pihaknya telah menyiapkan mini market bersistem jaringan, yang akan ditempat di seluruh Indonesia. Ia juga mendorong pendirian koperasi, perseroan, dan bank.

Jika kemandirian itu telah diwujudkan, lanjut dia, tidak akan ada lagi cerita tentang pengurus NU menyebar proposal permintaan bantuan. Dengan sendirinya, NU akan semakin berwibawa dan disegani.

Ketua tim kaderisasi NU ini mengingatkan, agar NU bisa mandiri, multak memerlukan orang yang amanah dalam mengelola keuangan organisasi. Ini berarti semakin menyehatkan NU sebagai jam’iyyah dengan transparansi dan audit independen.

Dengan sendirinya, fiqih organisasi mendesak dibutuhkan, dan pengkaderan sangat perlu diteruskan sebagai program permanen. (ichwan/abdullah alawi)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)