NU Tak Boleh Membungkuk pada Kekuasaan

Bandarlampung, Lailatul Ijtima biasa digelar PWNU Lampung sebulan sekali. Tapi pada Sabtu (31/10) malam, ada yang berbeda dari kegiatan tersebut dengan kehadiran pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, KH Maman Imanulhaq Faqih yang mengajak warga Nahdlatul Ulama untuk tetap kritis.

“NU memang tidak pernah berseberangan dengan pemerintah. Tapi apa perlu pengurus NU, ulama, mencium tangan bupati hanya karena proposal? Santri dan ulama jangan membungkukan diri pada kekuasaan. Kita boleh dekat tapi jangan takluk dengan pemerintahan,” ujar anggota Komisi 8 DPR RI itu di hadapan ratusan warga NU.

Satu hal berbahaya hari ini, ujar cucu KH Zaenal Mustofa itu pula, adalah hari ini makan siapa. “Mereka adalah yang mengganti Ketuhanan Yang Maha Esa dengan keuangan yang maha kuasa,” ujar Kang Maman lagi.

Ia lalu mencontohkan, ada kepala daerah mau silaturahmi. Ajudan biasa diutus di awal, meminta ini meminta itu. “Kekuasaan itu adalah hal biasa. Hari ini berkuasa besok tidak berkuasa, ya bisa dan biasa-biasa saja. Pemimpin baik tidak perlu dilayani. Gus Dur adalah contoh terbaik bagaimana memaknai kekuasaan yang tidak perlu dipertahankan mati-matian,” kata Kiai Maman mengingatkan warga NU.

Persoalan lain dihadapi bangsa Indonesia, menurut Kiai Maman, ialah birokrasi bobrok dan buruknya validasi data. “Saya katakan, siapapun presiden, bagaimanapun menteri-menterinya, kalau birokrasinya bobrok dan validasi data buruk, yang miskin akan selamanya miskin, tidak ada perbaikan,” ujar dia lagi.

Hadir pada Lailatul Ijtima Nahdlatul Ulama dan Tahlil Mengenang Guru, Ulama, Birokrat Drs H M Thabranie Daud digelar di Gedung PWNU Lampung jalan Cut Meutia 28 Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung itu, Ketua PWNU KH Sholeh Bajuri beserta jajaran, politisi PDI Perjuangan Eva Dwiana, Ketua PW GP Ansor Lampung Hidir Ibrahim, Ketua PC GP Ansor Lampung Barat Radityo AN.

Terlihat pula Ketua PW Hipsi Lampung H Abdul Karim, Ketua PW Fatayat NU Khalida, Ketua PW IPNU Lampung Aan Uly Rosyadi, KMNU Unila dan para santri pada kegiatan diisi renungan mengenai NU hingga dosa jemaah. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: