Nuzulul Quran, Momentum Belajar Sejarah dan Amalkan al-Quran

Demak, Peringatan Nuzulul Quran hendaknya dijadikan momentum untuk lebih meningkatkan pembelajaran sejarah, karena dengan mempelajari sejarah kita akan lebih bisa meneladani Rasulullah, di mana akhlak Nabi SAW adalah al-Qur’an itu sendiri.

Hal tersebut dikemukakan H. Ahmad Faizurrahman Hanif saat memberikan sambutan mewakili Pengasuh Pesantren KH. Muhammad Hanif Muslih dalam peringatan Malam Nuzulul Quran Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Jumat (3/7) malam. Peringatan itu juga dihadiri ratusan santri putra dan putri di Masjid An Nur.

“Mengutip apa yang diutarakan oleh Simbah KH. Maimun Zubair Sarang, bahwa sepatutnya para santri tidak lupa mengaji sejarah, tujuannya adalah untuk meningkatkan ketakwaan dan memperoleh keberkahan,” ujarnya.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Gus Faiz ini menjelaskan, terkait tanggal diturunkannya al-Quran, para ulama berbeda pendapat. Pendapat paling masyhur mengatakan tanggal 17 Ramadhan, tapi ada pula yang menyebut tanggal lain. Akan tetapi perbedaan itu bukan hal yang esensial.

Menurutnya, hal penting tentang Nuzulul Quran bagi umat Islam adalah keharusan meneladani apapun yang ada di dalam al-Quran. Mereka mesti mempelajarinya, membaca al-Qur’an, dan mengamalkannya.

Dalam kesempatan mauidhoh hasanah, KH. Shonhaji Sulaiman mengajak umat Islam untuk kembali kepada al-Quran. Menurutnya, fungsi al-Quran adalah petunjuk bagi umat manusia, penjelas dan pembeda yang haq dan bathil.

“Tepat pada malam inilah banyak kejadian-kejadian yang sangat istimewa, hal yang sangat penting sebagai pedoman dan sebagai penuntun bagi umat manusia, yaitu al-Qur’an al-Karim. Bukan hanya itu saja, turunya Al-Qur’an tepat pada bulan puasa, juga banyak riwayat mengataan jika pada malam ini, adalah malam seribu bulan, atau kerap dikenal dengan malam Lailatul Qadar,” jelasnya

KH. Shonhaji melanjutkan, tahapan-tahapan sepuluh hari pada bulan Ramadhan seperti yang dijelaskan Nabi SAW adalah pertama rahmah, artinya umat manusia harus saling menyayangi satu sama lain. Sepuluh hari kedua, maghfirah, yakni keluasan ampunan Allah SWT, dan karenanya sesama manusia semestinya juga saling memaafkan. Dan sepuluh hari ketiga adalah pembebasan diri dari api neraka (‘itqum minan nar). Ini adalah tahapan klimaks klimaknya ketika antarmanusia dapat saling menyayangi dan memaafkan maka hidup damai dalam kebahagiaan dapat diraih bersama.

Peringatan Malam Nuzulul Quran ini juga sebagai khataman dan penutup pengajian Pasanan di pesantren setempat selama bulan Ramadlan. (Ben Zabidy/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)