Pakar IT ITB: Islam Nusantara Bisa Gerakkan Kebangkitan Teknologi

Bandung, Pakar Teknologi Informasi Institut Teknologi Bandung, Basuki Suhardiman menilai, ide Islam Nusantara yang diusung Nahdlatul Ulama merupakan peluang untuk menunjukkan jati diri bangsa.

Sebab selama ini menurutnya, memang ada jenis keislaman yang secara unik dalam sejarah Islam di Indonesia. Dan jenis ini menurut Basuki bukan hal baru. Adapun guliran slogan Islam Nusantara itu dinilai bagian dari marketing, atau pemasaran gagasan pemikiran.

“Sebagai orang teknik yang sering menggali khazanah sejarah teknologi, Islam Nusantara itu cukup bagus untuk membangkitkan gairah generasi mengenal sejarah masa lalu. Sejarah Wali Songo misalnya bukan semata urusan dakwah dalam ruang lingkup seni dan akhlak saja, melainkan juga kaya akan legacy (warisan) ekonomi, teknologi, dan mesin tempur, “ujarnya kepada NU Online, Senin (29/8).

Peneliti Comlabs ITB yang sering aktif terlibat diskusi di PWNU Jawa Barat itu menilai, bahwa kajian Islam Nusantara harus menukik pada histori teknologi karena sekarang bangsa kita sudah tertidur lama dalam urusan teknologi.

“Ada rekam jejak dari sejarah jika sebuah bangsa tidak melakukan inovasi, tidak melakukan reengineering pasti akan mengalami keruntuhan karena kalah dalam kompetisi. Khilaffah Ottoman mundur akibat beku dalam sains dan teknologi. Majapahit bahkan runtuh karena tidak melakukan pembaharuan. Dan kejayaan Demak dengan Wali Songo-nya maju karena inovatif,” paparnya.

Basuki melanjutkan, Wali Songo kreatif dalam urusan dakwah. Misalnya mengubah wayang golek menjadi wayang kulit sebagai siasat atau kompromi supaya kesenian bisa laras dengan doktrin fiqih. Kemudian Raden Rahmat Ngampel juga kreatif dalam membuat skema pertanian sehingga hasil panen di kawasan Jawa Timur lebih baik, di Cirebon Sunan Gunung Jati juga banyak melakukan terobosan seperti memasok sarana perdagangan dari pedalaman dibawa ke pelabuhan.

“Kita kaya akan sejarah.Cuma memang bangsa kita ini termasuk kategori kelas rendah dalam urusan baca, menempati level paling bawah setara dengan negara Zambia. Akibatnya kita menjadi semacam bangsa yang zero naratif nation,” kritiknya.

Menurut Basuki, sebuah bangsa bisa maju ukuran umumnya bisa dilihat dari punya tradisi membaca, bagus dalam urusan matematika, dan cakap menguasai ilmu alam.

“Kalau membaca saja tidak pernah, bagaimana bisa maju urusan matematika dan ilmu alam?” Orang-orang NU punya tradisi membawa, karena itu gerakan membaca perlu digulirkan oleh PBNU, apalagi Ketua Umum PBNU-nya juga pinter sejarah,” jelasnya.

Karena itu menurut pria asal Sidoarjo ini, gema Islam Nusantara yang paling mendasar adalah mengambil gerakan literasi, terutama sejarah, berlanjut pada pengembangan kesusastraan, lalu riset pada sains.

 “Ini kesempatan baik di mana ada ide besar yang dikembangkan oleh organisasi besar. Dulu kiai-kiai tradisional pun tergolong kreatif dalam menjawab persoalan masyarakat. Sekarang harus dilakukan,” pesannya. (Yus Makmun/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)