Pameran Seni Rupa “Matja” NU Miliki Bobot Spritual

Yogyakarta, NU Online
Penyair Faisal Kamandobat mengatakan, pameran seni rupa yang digelar Nahdlatul Ulama bertema “Matja: Seni Wali-Wali Nusantara” merupakan turunan dari surat pertama Al-Quran surat Al-‘Alaq, yang berbunyi  “Iqra”. Karenanya pameran itu memiliki bobot spiritual yang berarti “Bacalah!”.

Menurut Faisal, membaca, dalam konteks ini, bukan aktivitas kognitif-intelektual semata melainkan juga aktivitas eskperiensial dan penghayatan. Ketika kata tersebut ditempatkan dalam konteks seni rupa, makna “membaca” bukan semata memahami dengan mencerap fenomena luar ke dalam kesadaran, melainkan juga memproduksi fenomena tersebut melalui kerja kreatif yang bersifat praktikal-eksperiensial dan memancarkannya ke luar dalam wujud karya rupa yang material.

Singkatnya, dalam seni rupa arti kata “membaca” juga sekaligus “menulis”, atau mengkonsumsi sekaligus memproduksi makna baik kognitif, eksperiensial, maupun praktikal. Dan sesuai bentuk materialnya, membaca dalam seni rupa juga sekaligus mengembangkan sesuatu yang abstrak (ide/konsep) menjadi konkret (karya seni) dan memberi bobot abstrak (ide/konsep) terhadap sesuatu yang konkret (karya seni).

“Membaca sebuah karya seni dengan membuang salah satu unsur tadi akan mendistorsi substansi dari seni rupa sebagai salah satu jalan yang mampu mentransformasi kemanusiaan ke puncak tertinggi, khususnya bagi pribadi-pribadi yang dikaruniai bakat khusus dalam bidang ini,” ungkap Faisal.

Menurut Peneliti di Abdurrahman Wahid Centre for Interfaith Dialogue and Peace, Universitas Indonesia, Jakarta, tersebut Respon para perupa terhadap spiritualitas Nusantara tersebut, menyebut kecenderungan yang pertama dalam pameran ini, adalah dengan melakukan transendensi terhadap simbol yang merepresentasikan tatanan kosmis yang suci.

Melalui transendensi, seniman mengambil simbol tersebut untuk digapai dan diafsir lewat lukisan. Usaha tersebut dilakukan, misalnya, oleh Agus Kamal dalam gaya kaligrafi modern dengan teknik “realisme kerok” yang khas kreasinya. Melalui karyanya ini, ia memilih menghayati dan mengekspresikan spiritualitasnya secara formal, dengan bentuk ekspresi lafadz Ilahi bergaya arkais dan siklis, sehingga pusat suci Ilahi dapat tampil dalam kepurbaan yang agung.

Karya kaligrafi lain juga muncul dalam lukisan abstrak Rais Aam PBNN KH A. Mustofa Bisri berjudul “Hanya Lafal”. Lukisan tersebut berupa garis-garis vertikal yang puitis, anggun, bersahaja dan modern. Dalam proses transendensi yang kontemplatif tersebut, baik Kamal maupun Bisri, juga terjadi dialog imajinatif antar budaya (Nusantara dan Arab) dan zaman (masa lalu dan masa kini), dengan memperkaya perkembangan seni kaligrafi Arab, mulai dari bentuk paku di Levant (juga disebuat Sami–kini meliputi Syria, Lebanon, Palestina) dan Yaman, kemudian berkembang ke gaya klasik standar dengan struktur baku, hingga ke bentuk modern yang menampung kebebasan ekspresi individu seniman—mungkin agar ibadah artistiknya semakin mudah dan leluasa.

Faisal memberikan contoh, usaha transendensi di luar bahasa religious formal dapat ditemukan dalam lukisan abstrak eskpresionis Najib Amrullah berjudul “Gembiraku Gembira Kita”, dengan pilihan warna riang dan sapuan kuas yang bebas. Dengan lukisan tersebut, spiritualitas ditafsir sebagai pelepasan dari beban psikologis.

Hal tersebut berbeda dengan Agus Suwage dalam karya “The Champ” dan Jeihan dalam karya “Sunan Kalijaga” yang berusaha melakukan ikonisasi fenomena dalam aktivitas transendensinya. Dengan ikonisasi, femonena diangkat ke realitas yang lebih tinggi dan mengerucut pada figur yang mampu mewakili realitas yang lebih luas dengan mencakup dan menyatukan makna-makna yang kotradiktif; persis seperti ikon jam mewakili semua jenis jam dan simbol salib atau bintang sabit mewakili semua umat Kristen dan Islam yang belum tentu rukun di antara sekte-sektenya.

Di tengah semua itu, barangakali transendensi yang paling sublim melalui oraktik mengikonisasi fenomena tampil dalam lukisan S Teddy D berjudul “Pancasila”: patung Gus Dur dengan posisi tangan menengadah ke atas berupa tulisan arab pegon “pancasila” di atas kanvas. Dalam karyanya ini Teddy hendak mengapresiasi figur KH Hasyim Asy’ari (kakeknya Gus Dur) yang telah membuat rumusan pancasila tanpa ada keinginan untuk memaksakan diri menjadikan negara Republik Indonesia sebagai negara Islam.  

Sedangkan Nasirun, lanjut Faisal, mengolah moral and ‘spiritual story’ dari kehidupan rakyat jelata namun ditempatkan dalam lanskap pemahaman yang luas, hingga terjadi komunikasi antara mikrokosmos dan makrokosmos. Cara kerja demikian dibentuk oleh lingkungan asal Nasirun sebagai penduduk desa di Banyumas yang tidak mengenal dunia aristokrat Jawa, sehingga metafor yang dipilih adalah figur dan dunia batin orang kecil di tengah kosmologinya.

Dalam lukisan “Matja Maning”, Nasirun menempatkan seniman Slamet Gundono yang juga berasal dari Jawa Mancanegara (dari Tegal, sama seperti Banyumas yang juga berada di luar batas Negara konsentris Kesultanan Mataram) tengah menafsir bintang-bintang jagad raya, dengan teks tembang berada di langit-langitnya. Slamet, yang juga santri dan seniman yang berorientasi kerakyatan, merupakan seorang inovator “seni rakyat” agar tetap relevan dan aktual, tidak hanya dalam realitas kekinian budaya Jawa namun juga dalam konteks seni kontemporer yang akomodatif terhadap inovasi-inovasi lokal.

Dengan demikian, Nasirun tengah menegaskan bahwa di Nusantara ini, spiritualitas dibagi secara adil dan merata, tanpa peduli kelas sosial, tanpa pandang modern atau tradisional, semua mendapat tempat yang sama dalam tatanan kosmis yang suci. (Red: Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)