Para “Tuanku” Didorong Arif dan Santun dalam Berdakwah

Padangpariaman, Tuanku sebagai ulama di tengah masyarakat harus selalu istiqamah dalam menghadapi berbagai cobaan yang muncul untuk mencarikan solusinya. Dalam berdakwah di tengah masyarakat para tuanku diminta agar selalu bisa bersikap arif, bijaksana, dan santun.

Ketua Yayasan Pembangunan Pendidikan Anwaril Ilmu (YP2AI) Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ambung Kapur Kecamatan VII Koto Kabupaten Padangpariaman, Propinsi Sumatera Barat, Azrul Aswat Tuanku Mudo, mengatakan hal itu, pada pengukuhan gelar Tuanku Pesantren Nurul Yaqin Ambung Kapur, Jumat (20/11/2015) malam di halaman pesantren tersebut. Pengukuhan gelar Tuanku, juga disertai dengan  pemberian ijazah tingkat Aliyah, Tsanawiyah dan Khatam Al-Qur’an  di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ambung Kapur. 

“Tuanku yang dikukuhnya ini harus mampu menjadi pencerah di tengah masyarakat. Di tengah kegalauan umat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan dan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi begitu pesat, umat membutuhkan nasehat dari para ulama. Tuanku yang sudah dididik di pondok pesantren diharapkan tetap meningkatkan ilmu pengetahuan dengan terus belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” kata Azrul Aswat, mantan Walinagari Lareh Nan Panjang ini.

Tugas utama tuanku adalah, kata Azrul, bagaimana menyakinkan kepada masyarakat bahwa kepastian hisab di hari akhirat kelak. Semua perbuatan manusia di dunia ini akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Sehingga umat dalam  berbuat sesuatu yang baik dan buruk, yakin akan dipertanggungjawabkan kelak.

“Tuanku dalam menyampaikan dakwahnya harus menjadikan Islam rahmatan lil’alamin. Islam yang mendatangkan kedamaian, menyelesaikan masalah dengan penuh kearifan. Bukan menyelesaikan masalah dengan kekerasan yang menimbulkan masalah baru lagi. Selama ini tuanku mampu menjadi contoh di tengah umat. Hal ini harus terus dipertahankan oleh tuanku yang dikukuhkan malam ini,” tutur Azrul Aswat.

Sementara itu, Pimpinan Pesantren Nurul Yaqin Ambung Kapur Ali Basar Tuanku Sutan Sinaro menegaskan, pengukuhan tuanku ini bukan berarti berhenti belajar ilmu agama Islam. Jika di pesantren sebelumnya hanya menuntut ilmu untuk diri sendiri. Namun setelah pengukuhan ini, selain untuk diri sendiri, juga untuk umat. Artinya tuanku harus pula belajar di tengah-tengah masyarakat. “Mereka yang dikukuhkan menjadi tuanku, dinilai sudah siap untuk terjun ke tengah masyarakat,” kata Ali Basar.

Dikatakan, Ali Basar, pondok pesantren sudah mendapat perhatian dari Pemerintah. Apalagi dengan ditetapkannya Hari Santri 22 Oktober beberapa waktu lalu oleh Presiden RI Joko Widodo, semakin mengkokohkan eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan agama yang berwawasan kebangsaan. Untuk itu, santri yang belajar di pesantren Nurul Yaqin Ambung Kapur  diminta terus giat belajar.

Tuanku yang dikukuhnya sebanyak 10 orang. Masing-masing Rasidatul Fatni gelar Ustadzah Mursyidatul Ummah, Fella Fadilla gelar Ustadzah Mazra’atul Husni, Widia Erlita gelar UstadzahMukinatum Fiddin, Aminah gelar Ustadzah Musiratul Ilmi, Poni Irwanto gelar Tuanku Bagindo  Mangkuto, Nur Halifah gelar Ustadzah  Mutakkinah, Yunita gelar Ustadzah Mutmainnah, Syaiful Anwar gelar Tuanku Kuning, Akhirman gelar Tuanku Bagindo Sulaiman dan Maysadi Saputra gelar Tuanku Mudo Malano.

Selain itu, juga diberikan ijazah kepada 29 tingkat tsanawiyah dan khatam Al-Qur’an 39 orang. Saat ini Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ambung Kapur memiliki santri sebanyak 410 orang. Tingkat Aliyah berjumlah 150 orang, tingkat tsanawiyah 260 orang dan 36 orang guru agama/umum. Pesantren ini berdiri sejak 1996. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: