PBNU Ajak Mahasiswa Perdalam Wawasan Islam Nusantara

Jakarta, Menyampaikan pesan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Dr Abdul Moqsith Ghazali mengajak mahasiswa dari berbagai jurusan untuk memperdalam wawasan Islam Nusantara kepada NU. Hal ini dia sampaikan saat menerima kunjungan 80 mahasiswa FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mewakili ke PBNU, Kamis (19/11) di Kantor PBNU Jakarta.

Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa bermaksud mengenal lebih jauh tentang Islam Nusantara yang diusung dan digerakkan oleh NU. Semacam outdoor learning ini sebagai bagian dari mata kuliah kekuatan dan budaya politik di FISIP UIN Jakarta.

Abdul Moqsith Ghazali sendiri menjelaskan pemahaman Islam Nusantara dari berbagai aspek, yaitu dari sisi sosial, budaya, politik, dan akidah. Dari pantauan NU Online, para mahasiswa yang didampingi oleh Wakil Dekan FISIP UIN Jakarta, Agus Nugraha, MSi menyimak secara seksama paparan yang disampaikan oleh Moqsith Ghazali.

Moqsith, sapaan akrabnya menerangkan, bahwa Islam Nusantara pemahaman Islam yang sangat inklusif (terbuka) terhadap tradisi dan budaya yang berkembang di masyarakat sejak zaman dulu. Dari sikap itulah, lanjutnya, Islam yang dibawa oleh para Wali Songo mudah diterima oleh masyarakat Nusantara hingga akhirnya Islam menjadi keyakinan mayoritas di Indonesia, bahkan dunia.

“Islam Nusantara bukan agama baru, bukan pula keyakinan baru. Islamnya sama dengan yang dibawa Nabi Muhammad dengan karakter Nusantara yang ramah, terbuka, toleran, tidak anti-budaya, dan merawat tradisi sehingga Islam mudah diterima oleh masyarakat. Itu secara sosial dan budaya,” ujarnya.

Secara politik, lanjutnya, Islam Nusantara yang dibawa oleh NU konsisten menegakkan negara bangsa, bukan negara Islam meskipun Indonesia mayoritas beragama Islam. “Dalam Muktamar NU tahun 1984 di Situbondo, NU merupakan organisasi pertama yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal organisasi. Dalam hal ini, para kiai meyakini, bahwa Pancasila merupakan ideologi yang tepat sebagai dasar negara yang mampu menyatukan seluruh elemen bangsa,” jelas Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini.

Kemudian secara akidah, imbuh Moqsith, wilayah Islam Nusantara tidak terkait dengan akidah melainkan pada ekspresi keberagamaan yang toleran, seimbang, ramah, dan menegakkan kebenaran dengan cara yang baik.

“Secara akidah, pemahaman Islam Nusantara tidak berbeda dengan Islam yang dibawa oleh Kanjeng Nabi Muhammad, yaitu menjalankan rukun Islam dan rukun Iman,” tandasnya. (Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: