PBNU Butuh Terobosan Model Baru Mengaktifkan Kepengurusan

Bandung, Sebuah lembaga di Bandung, The National Upgrade Indonesia (Nuindo) yang melakukan pengamatan  organisasi Nahdlatul Ulama (NU) selama perlaksanaan muktamar hingga pra pelatikan pengurus melihat ada beberapa hal yang penting diperhatikan oleh para pengurus NU, terutama PBNU. Faiz Manshur, Direktur Nuindo Institut Bandung, menyampaikan beberapa temuan terkait dengan NU masa kini, dan prediksi masa depan.

“Kami melakukan analisis pergerakan NU selama beberapa tahun terakhir. Sekalipun tidak melalui survei secara khusus, tetapi beberapa kesimpulan dari hasil riset berita dan wawancara di kalangan pengurus NU baik pada pra-muktamar, saat muktamar maupun setelah muktamar ini cukup menggambarkan situasi NU,” ujarnya kepada NU Online, Senin (31/8), di Bandung, Jawa Barat.  

Menurut Faiz Manshur, dalam tubuh NU muncul banyak kemajuan dari sisi sumber daya manusia, terutama kalangan muda yang berusia rentang 30-40 tahun. Sebagian dari generasi ini memang tidak sepenuhnya hasil produk kaderisasi organisasi NU tetapi mereka mendapatkan pengalaman hidup, kerja dan urusan sosial yang cukup matang.

“Pemikiran keagamaannya rata-rata lebih maju karena basisnya dari pesantren atau madrasah. Adapun kemampuan menajerial atau keorganisasian ditimba dari tempat mereka bekerja seperti LSM, perusahaan swasta, atau lembaga negara,” jelasnya.

Di atas kertas menurut Faiz, sumber daya NU sangat kaya, tetapi sayangnya sebagian tidak terintegrasi dengan organisasi secara harian. Kebanyakan memilih menjadi NU, tetapi tidak masuk ke jajaran pengurus baik di tingkat wilayah, cabang maupun anak cabang. Hal ini menurut Faiz, bukan mereka enggan, tetapi tidak ada pemikat secara khusus berupa mobilisasi untuk berkhidmah di dalam jajaran kepengurusan.

“Jika berharap dari golongan profesional NU itu supaya bisa memajukan NU harus galang, diajak, dilibatkan dalam kegiatan, dan diberikan tempat. Ada yang pinter manajemen diberikan kesempatan, ada yang secara intelektual cakap, harus didorong. Ada pula yang pinter nyari duit, difasilitasi  bergerak,” imbuhnya.

Menurut Faiz Manshur, saat ini pengurus NU harus menertibkan organisasi. Sebab dari berbagai wawancara yang dilakukan dengan berbagai pihak, para aktivis NU, terutama yang muda-muda lebih banyak berkeluh-kesah ketimbang mencari solusi karena mereka tidak memegang kesempatan mengeksekusi kemampuannya dalam jajaran pengurus.

“Kalau ditanya kenapa NU sulit bergerak aktif di lapangan sosial, mereka rata-rata mengeluhkan organisasi NU yang kurang tertata rapi. Kebanyakan pengurus masih menerapkan manajemen tradisional di mana ketua sangat power full dan kurang mahir mengorganisir sekaligus mendelegasikan amanat-amanat kerja keorganisasian secara kolektif,” paparnya.

Selain itu, organisasi NU nampak lebih aktif secara kultural ketimbang struktural karena para pengurus banyak yang hanya aktif pada masa awal kepengurusan, selanjutnya mereka hanya meninggalkan namanya di jajaran kepengurusan.

Sekjen PBNU, katanya, harus punya formulasi baru terutama di jajaran pengurus wilayah dan cabang. Rata-rata pengurus cabang dan pengurus wilayah menunggu perbaikan dari pengurus PBNU. Misalnya PBNU membuat sistem baru dengan mengganti kepengurusan mereka jika dalam masa setengah atau setahun tidak melakukan apa-apa.

“Karena itu harus ada peraturan khusus untuk hal ini. Tidak usah pakai istilah pecat, yang terpenting punya sistem berupa kontrak yang membuat para pengurus sadar jika harus berhenti di tengah masa kepengurusan karena tidak tidak aktif atau tidak berkontribusi,” pungkasnya. (Yus Makmun/Mahbib)
 

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)