Peduli Budaya Lokal, Para Pelajar NU Ini Belajar Tembang Macapat Jawa

Pekalongan, Mulai terasingnya anak-anak muda masa kini dari budaya lokalnya sendiri mendorong para kader Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Ranting Pakumbulan, Buaran, Pekalongan, menggelar kegiatan bertajuk “Pelatihan dan Pengupasan Nilai-nilai Luhur Tembang Macapat Jawa”.

IPNU-IPPNU Pakumbulan prihatin, kebudayaan Jawa yang diwariskan leluhur seperti tetembungan kuna, tidak menarik, bahkan dinilai tak berguna bagi remaja atau anak muda sekarang. Mereka lebih banyak bergelut dengan bahasa dan budaya Jawa sebatas dua jam pelajaran di sekolah per minggu.

Selaku pemateri, M. Mirza Rofiq, S.Pd., menjelaskan bahwa dari segi penamaan saja, 11 tembang macapat itu sudah memiliki makna. Pemberian nama-nama ini menggambarkan laku jantraning manungsa (perjalanan hidup manusia), dimulai dari Mijil (lahir) sampai yang terakhir adalah Pocung (Pocong).

“Lalu apalagi membahas isi tembangnya? Serat-serat berwujud tembang itu rata-rata dikarang oleh pujangga Jawa yang termasuk ‘alim di zamannya. Nama semacam Sri Susuhunan Mangkunegara IV, Ki Ronggowarsito, dan sebagainya; siapa yang meragukan keulamaannya? Kita bisa kroscek lewat mahakarya beliau-beliau semacam Serat Wulang Reh. Yang demikian ini yang tidak di buka sejarahnya,” imbuhnya.

Sekitar 70-an anggota IPNU-IPPNU mengikuti dengan antusias kegiatan yang digelar Jumat (5/11) di Pekalongan, Jawa Tengah ini. “Kalau kita sebagai generasi muda Jawa tidak mempelajari sampai buta akan kebudayaan sendiri, lalu kepada siapa kita harus berharap? Kegiatan semacam ini membuat kita sebagai anak muda cinta dan bangga terhadap kekayaan kebudayaan lokal kita”, komentar M. Nailul selaku Pimpinan Ranting. (Ainun Najib/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: