Pelayanan Kesehatan dan Makanan Jamaah Haji Dinilai Belum Standar

Jakarta, Anggota DPR RI Komisi IX, Nihayatul Wafiroh, mengaku menemukan beberapa kekurangan ketika melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke embarkasi haji Surabaya, Jawa Timur. Ia mengecek pelayanan kesehatan para jamaah haji dan juga makanan yang diberikan.

Nihayatul Wafiroh mengungkapkan bahwa jumlah petugas kesehatan, dokter dan perawat tidak sebanding dengan jumlah jamaah yang harus ditangani setiap hari.

“Di embarkasi ini, setiap hari bisa ada 2-3 kloter. Setiap kloter ada 450 jamaah. Sedangkan jumlah dokter yang ada setiap hari hanya 2 dokter dan 50 tenaga kesehatan. Ini tidak imbang. Idealnya, setiap hari harus ada 5 dokter dan 90 tenaga kesehatan,” tambah Nihayah, dalam siaran pers, Jumat (28/8).

Ia bersama empat anggota DPR lainnya melakukan sidak pada Kamis (27/8) pagi, untuk memastikan kualitas pelayanan haji di sana. Dalam proses pengecekan, para anggota DPR RI Komisi IX tersebut juga sampai masuk ke dapur tempat masak makanan para jamaah. Di sana juga ditemukan sejumlah kekurangan terkait dengan gizi makanan.

“Makanannya kurang memenuhi standar kesehatan. Tidak ada sayur-sayuran. Selain itu, minyak untuk menggoreng digunakan berkali-kali hingga kelihatan hitam. Padahal para jamaah ini harus memiliki kondisi yang prima dan sehat untuk aktivitas ibadah di tanah suci sana,” jelas Nihayatul Wafiroh.

Tidak hanya itu saja, para anggota DPR RI ini juga menyoroti jarak antara poliklinik dan aula penyambutan kedatangan jamaah asrama haji yang sangat jauh. Padahal chek ulang kesehatan berada di aula penyambutan sehingga kalau ada masalah apa-apa di bawa ke poliklinik harus pakai ambulan. “Ini kurang praktis dan terlalu lama. Mustinya bisa dibuat lebih dekat,” kritiknya.

Selain mengamati pelayanan kesehatan dan makanan, para anggota DPR RI tersebut juga menyambangi dan menyapa secara langsung para jamaah. “Ketika menghampiri beberapa jamaah, kami juga menemukan ada jamaah yang sedang sakit dan sudah ditangani. Mudah-mudahan cepat membaik,” harap Nihayah.

Terkait dengan penanganan khusus, pihak embarkasi memberikan gelang dengan warna tertentu bagi jamaah yang memiliki risiko tinggi dan berumur di atas 60 tahun. Dengan dengan warna tertentu itu akan menjadi penanda dalam memudahkan petugas mengambil tindakan juga terjadi sesuatu pada jamaah tersebut. Hasil sidak ini akan disampaikan kepada instansi-instansi terkait untuk diperbaiki. (Mahbib)

 

Foto: Ilustrasi

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)