Pemanfaatan Hutan Kurang Diimbangi dengan Upaya Pelestarian

Bogor, Di banyak negara, termasuk di Indonesia, pemanfaatan hutan kurang diimbangi dengan upaya pelestarian yang memadai. Hal ini mengakibatkan banyak kawasan hutan yang rusak, mengalami degradasi dan deforestasi. Deforestasi dan degradasi hutan disebabkan oleh kebakaran, perambahan hutan, illegal loging, konversi untuk pertanian, perkebunan, pemukiman, dan lain-lain. 

Demikian pernyataan Ir Ari Wibowo, MSc dari Pusat Litbang Perubahan Iklim dan Kebijakan Balitbang Kehutanan dan Inovasi Kementerian LH dan Kehutanan RI saat menyampaikan materi pada diskusi “Isu-Isu Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim”, Kamis (21/05) di Hotel Parama Bogor pada kegiatan Rakornas LPBINU. 

Menurut keterangannya, perubahan iklim merupakan tantangan multidisiplin paling serius, kompleks dan dilematis yang dihadapi umat manusia pada awal abad ke-21, bahkan diperkirakan hingga abad ke-22. Tidak ada satu negarapun atau kelompok masyarakat dunia yang mampu menghindar dari ancaman terhadap peradaban bangsa tersebut.

“Dampak negatifnya cepat meluas dari tingkat global hingga ke tingkat lokal yang terpencil sekalipun. Dampak perubahan iklim ini semakin kita rasakan antara lain kenaikkan suhu udara, perubahan volume curah hujan dan pola musimannya, musim kering yang lama, hujan yang semakin lebat hingga kenaikkan permukaan air laut,” ungkap Ari.

Sedangkan Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB, Lilik Kurniawan menyatakan, kementerian dan lembaga belum berintegrasi dalam implementasi program pengurangan risiko bencana. Padahal pengurangan risiko bencana membutuhkan koordinasi antarlembaga dan kementerian. Untuk mengoptimalkan pengurangan risiko bencana, maka kementerian dan lembaga harus berintegrasi, agar terarah dan komprehensif. 

“Pengurangan risiko bencana juga merupakan investasi yang sangat strategis, karena sudah pernah terjadi bencana dengan kerugian yang sangat besar. Peran serta masyarakat juga sangat diperlukan keterlibatannya untuk menopang program pemerintah dalam pengurangan risiko bencana,” ujarnya.

Diskusi ini juga menghadirkan pembicara lain, Arief Sumargi (Kasubdit Pembinaan Teknis Kementerian LH dan Kehutanan RI) dan Koko Wijanarko (Kasubdit Identifikasi dan Analisis Kerentanan Perubahan Iklim Kementerian LH dan Kehutanan RI). 

Pemaparan semua pemateri diskusi menambah semangat peserta Rakornas LPBINU dalam menggali ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin dari narasumber untuk bekal terjun ke lapangan. (Red: Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: