Pemikiran Anti Syiah Berangkat dari pakem-pakem Wahabiisme

Jakarta,
Belakangan ini, hembusan isu tentang kebencian terhadap golongan Syiah sangat santer. Isu ini sebenarnya bukan barang baru karena sering muncul pada kesempatan tertentu sebagaimana isu-isu temporer yang sering menemuka di media massa seperti kebencian terhadap golongan Ahmadiyah atau isu Komunisme.

Khusus menyangkut kebencian terhadap Syiah menurut Syarif Yahya, Pengasuh Pondok Pesantren Ridlo Allah Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah hembusan kebencian tersebut sebenarnya tidak mencerahkan karena lebih berdimensi politik.

“Agak mengherankan memang. Segelintir orang menghembuskan isu-isu Syiah yang menurut saya itu lebih membawa madharat ketimbang manfaat. Madharat karena itu ajakan-ajakan anti Syiah itu tujuannya untuk mengobarkan kebencian dan bahkan bisa memicu konflik bagi yang tertuduh. Sampai-sampai Ketua Umum PBNU pun dituduh Syiah hanya karena menjelaskan sejarah tentang Syiah secara objektif,” ujar Penulis Kamus Pintar Agama Islam dan Kamus Sejarah Agama Islam ini kepada , Sabtu 28 November 2015.

Sebagai penulis yang memiliki catatan-catatan historis terkait hubungan Sunni-Syiah sebenarnya tidak terlalu banyak konflik. Kalaupun ada konflik biasanya hanya sebagai penyertaan di permukaan. Itulah mengapa menurutnya propaganda anti Syiah oleh segelintir mubalig yang berhaluan ekstrem dan mengaku kelompok Sunni tersebut patut dipertanyakan.

“Kalau dari alur sejarah yang saya teliti, kebanyakan yang anti syiah dan ahmadiyah itu berangkat dari pikiran pakem-pakem wahabiisme. Adapun kelompok Sunni secara umum tidak demikian,” terangnya.

Menurut Alumi Pesantren Al-Anwar Rembang Jawa Tengah ini, sebaiknya masyarakat Islam Indonesia berhati-hati bukan pada Syiah atau Ahmadiyahnya, melainkan pada penghembus isu-isu tersebut.

“Bagaimana pun juga dalam urusan beragama kita harus mengedepankan sikap ukhuwah dan menjauhi peperangan karena yang utama dalam Islam itu adalah perwujudan akhlak, bukan agenda politik apalagi agenda ideologis dari golongan-golongan seperti itu. Sangat bahaya kalau kemudian kita saling menyesatkan,” paparnya.

Penjelasan Syiah

Dalam buku Kamus Pintar Agama Islam penerbit Nuansa Cendekia (2013) yang ditulis Syafi Yahya misalnya, ada pencerahan objektif tentang golongan Syiah sebagai berikut:

“Secara bahasa syiah itu berarti ‘pengikut’. Lebih konkretnya, Syiah merupakan pengikut, pembela, kelompok; para pengikut Ali bin Abi Thalib Kw dan para pembelanya sejak zaman Rasulullah Saw. Dalam hadis disebutkan, ketika turun ayat, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk (Qs al-Bayyinah [98]: 7), Rasulullah Saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, “Wahai Ali, itu adalah engkau dan syiahmu. Engkau dan syiahmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridha dan diridhai.”
Hadis ini diriwayatkan Al-Hafizh Abu Na’im, dalam kitabnya Hilyah al-Auliyâ’, dari Ibn Abbas Ra. Menurut aliran ini, kepemimpinan setelah Nabi Saw jatuh kepada Ali dan keluarganya, karena tidak mungkin Nabi meninggalkan umatnya tanpa wasiat kepemimpinan.

Di Ghadir Khum, Nabi menegaskan kepemimpinan Ali ini di hadapan seluruh kaum Muslim sekembali dari haji wada’. Menurut aliran ini, agama terbagi menjadi dua, yaitu ushûluddîn dan furû’uddîn. Dalam ushûluddîn, umat tidak boleh bertaklid kepada siapa pun, tetapi harus memahami menurut kemampuan masing-masing, sedangkan dalam furû’uddîn, kaum awam harus bertaklid kepada mujtahid. Ushûluddîn meliputi: Tauhid (iman kepada Allah), al-‘Adl (iman pada keadilan Tuhan), an-Nubuwwah (iman kepada Nabi), al-Imâmah (iman kepada imam penerus Nabi), al-Ma’âd (iman pada hari kebangkitan).

Syiah Imamiyah atau Itsna Asyariyah atau Ja’fariyah: sekte dalam Syiah dan merupakan yang terbesar. Disebut Imamiyah karena menitikberatkan pada konsep imamah; disebut itsna asyariyah yang berarti ‘dua belas’ karena meyakini dua belas imam keturunan Nabi Muhammad Saw; dan disebut Ja’fariyah karena diambil dari nama imam keenam, Ja’far bin Ali, yang merupakan rujukan mereka dalam fikih.

Keduabelas imam tersebut adalah: 1. Ali bin Abi Thalib (600- 661), 2. Hasan bin Ali (625-669), 3. Husain bin Ali (626-680), 4. Ali bin Husain atau Zainal Abidin (658-713), 5. Muhammad bin Ali al- Baqir (676-743), 6. Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq (703-765), 7. Musa bin Ja’far al-Khazhim (745-799), 8. Ali bin Musa ar-Ridha (765- 818), 9. Muhammad bin Ali at-Taqi al-Jawwad (810-835), 10. Ali bin Muhammad al-Hadi (827-868), 11. Hasan bin Ali al-Askari (846-874), 12. Muhammad bin Hasan al-Mahdi (868-…), imam terakhir inilah yang diyakini gaib dan senantiasa dinantikan kehadirannya. Menurut sekte ini, imam memiliki sifat ma’shum (terhindar dari dosa) sebagaimana nabi. Aliran ini menjadi mazhab resmi Republik Islam Iran.

Syiah Isma’iliyah dinisbatkan pada Isma’il bin Ja’far ash-Shadiq yang diyakini sebagai imam ketujuh, yang menjadi titik perbedaannya dengan Imamiyah; Imamiyah meyakini penerus Ja’far ash-Shadiq adalah Musa bin Ja’far, bukan Ismail bin Ja’far. Disebut juga Syiah Tujuh Imam karena meyakini tujuh imam, dan yang terakhir yakni Ismail bin Ja’far adalah mahdi (yang gaib dan akan kembali).

Ketujuh imam itu adalah: 1. Ali bin Abi Thalib (600-661), 2. Hasan bin Ali (625-669), 3. Husain bin Ali (626-680), 4. Ali bin Husain atau Zainal Abidin (658- 713), 5. Muhammad bin Ali al-Baqir (676-743), 6. Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq (703-765), 7. Ismail bin Ja’far ash-Shadiq. Sekte ini adalah terbesar kedua setelah Imamiyah, bahkan pernah dominan pada masa Dinasti Fatimiyah. Sekarang berkembang di India, Pakistan, Libanon, Saudi, Yaman, dan sekitarnya. Syiah Zaidiyah sekte Syiah yang paling dekat dengan Sunni.

Menurut sekte ini, imamah bukan ketetapan syariat, melainkan hasil kesepakatan umat seperti halnya khilafah. Tidak menafikan kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, namun sebatas mengutamakan Ali daripada ketiganya, karena Ali yang membaiat ketiga khalifah tersebut. Hanya meyakini lima imam dan yang terakhir adalah Zaid bin Ali, dan dari Zaid inilah nama sekte ini diambil. Kelima imam tersebut adalah: 1. Ali bin Abi Thalib (600-661), 2. Hasan bin Ali (625-669), 3. Husain bin Ali (626-) 4. Ali bin Husain, 5) Zaid bin Ali. (Satar Sakri/Mukafi Niam)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: