Penetapan Hari Santri Tak Perlu Disambut Gaduh

Kendal, Penetapan Hari Santri Nasional 22 Oktober oleh Presiden Joko Widodo tidak perlu disambut gaduh dengan statemen terkesan prematur. Shuniyya Ruhama, Pengajar di PPTQ Al Istiqomah Weleri, Kendal, Jawa Tengah, Senin (19/10), menilai penetapan hari itu adalah hal wajar dan tidak akan mengkotak-kotakkan umat Islam dalam kategori santri dan nonsantri.

Ia lalu mengutip pernyataan tokoh ormas Islam tertentu yang menolak penetapan Hari Santri Nasional: “Santri identik dengan golongan yang kebutuhan agamanya terpenuhi. Sementara itu ada sebagian umat Islam yang nonsantri. Jadi, sebaiknya kita bina saja ukhuwah Islamiyah, jangan mengkotak-kotakkan umat dengan peringatan Hari Santri.”

Membaca statemen tersebut, demikian Shuniyya menambahkan, dirinya merasa mendapat kesan “wow”, terharu bercampur bahagia dengan pendapat luar biasa ini. Dengan logika sama, pernahkah terpikirkan peringatan hari-hari besar lain juga akan lucu jika dipertanyakan oleh yang bukan berasal dari orang atau kelompok yang memperingatinya?

“Contohnya Peringatan Hari Batik Nasional. Kalau dipertanyakan, bukankah kain Nusantara bukan hanya Batik. Ada Tenun, Ulos, Sasirangan, Jumputan, Cinde dan ratusan jenis lainnya. Mengapa hanya Batik saja? Apa perlu kita surati Presiden untuk membatalkan Hari Batik Nasional karena dinilai diskriminatif? Tentu tidak begitu bukan?” ujar Shuniyya.

Ia menambahkan, santri adalah komunitas besar yang jumlahnya puluhan juta orang. “Mengapa hari santri perlu diperingati, tentu saja jika ingin tahu ya harus jadi santri dulu supaya bisa mendalami dan menjawabnya. Di luar itu, sebaiknya ‘Pemirsa Harap Tenang’. Toh jika yang bukan santri, katakanlah kelompok yang merasa dirinya sebagai kaum abangan atau penyebutan lainnya mau bikin hari nasional, kenapa tidak? Silakan saja jika ingin membuat hari itu. Kami, dari pihak Santri tentu tidak bisa memprotes, karena tidak paham rasanya menjadi kelompok kategori tersebut,” tuturnya.

Shuniyya menilai, sang pemrotes kurang piknik. “Beliau sepertinya belum membaca, bahwa di Indonesia, di luar hari besar keagamaan juga ada hari-hari yang berhubungan dengan Islam. Sejauh ini tidak ada yang protes tuh. Yang tidak tahu ya tidak apa-apa. Yang tidak ikut memperingati ya juga tidak apa-apa. Tanggal 3 Januari adalah Hari Departemen Agama Republik Indonesia. Tanggal 22 Februari adalah Hari Istiqlal dan tanggal 31 Juli adalah Hari Korps Pelajar Islam Indonesia (PII). Mengapa harus merasa terganggu dengan dikukuhkannya Hari Santri Nasional. Dan apakah yang bukan santri merasa terkotak dengan hari ini? Tentu tidak bukan?” demikian Shuniyya Ruhama. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: