Pesan Rais Syuriyah PBNU untuk Para Pemimpin Daerah Terpilih

Pringsewu, Pesta Demokrasi Pemilihan Kepala Daerah serentak di beberapa daerah di Indonesia pada Rabu (9/12) baru saja usai. Ada yang menang ada yang kalah. Sejak era reformasi, kran berdemokrasi terbuka lebar, lebih-lebih dengan bermunculannya parta-partai politik yang saling bersaing untuk memenangkan calon yang diusungnya. Kehadiran partai politik itu diperlukan untuk melahirkan pemimpin, meskipun tidak setiap pemimpin dilahirkan oleh partai politik.

Menurut Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin atau Gus Ishom, pemimpin yang telah dipilih otomatis memperoleh jabatan, meskipun sebenarnya kepemimpinan itu adalah aksi nyata, bukan posisi itu sendiri. “Tentu saja dengan jabatannya seorang pemimpin harus mengembangkan pengaruhnya untuk mencapai tujuan kepentingan umum, bukan demi kepentingan pribadi, keluarga atau kelompoknya,” katanya, Jumat (11/12).

Namun demikian, menurutnya, hasrat untuk berebut jabatan dengan menjadi pemimpin itu sangat tergantung kepada niat atau motivasi masing-masing. “Pastinya, setiap pemimpin dengan jabatannya itu pasti memperoleh sarana berupa materi seperti mobil dinas, rumah dinas dan sebagainya atau non materi seperti memperoleh pelayanan, penghormatan dan pengawalan ekstra, suatu efek samping yang seringkali diangan-angankan para calon sebelum kemenangannya diraih,” jelas ulama muda asal Pringsewu ini.

Ia menambahkan bahwa seharusnya seorang pemimpin harus mau berkorban, bahkan siap menderita untuk melayani rakyatnya. “Pemimpin yang melayani rakyat biasanya berawal dari niat yang benar, yakni kepemimpinan yang berawal dari ketulusan hati yang ingin melayani, bukan menuntut untuk selalu dilayani oleh rakyatnya,” tegasnya.

Ketulusan itu sendiri, menurutnya hanya muncul karena adanya rasa cinta kepada rakyatnya. Seorang ingin bersikap adil dan berupaya maksimal memperhatikan, memenuhi dan mensejahterakan seluruh rakyatnya. Sehingga pemimpin tidak diperbudak oleh jabatannya dan tidak pula menyelewengkannya untuk kepentingan dirinya sendiri dan atau keluarganya.

Gus Ishom, begitu Ia biasa dipanggil mendefinisikan bahwa pemimpin yang hakiki bukanlah mereka yang gila popularitas melalui upaya pencitraan dalam setiap langkahnya, tetapi ialah orang yang bersikap tegas, konsisten dan bertanggungjawab atas amanat yang telah dipercayakan rakyat kepadanya. 

“Seorang pemimpin karena tanggungjawabnya itu bahkan berani mengambil keputusan dengan resiko yang bahkan terpaksa mengecewakan orang lain, karena ia sadar bahwa tidaklah mungkin menyenangkan setiap orang, lebih-lebih terhadap mereka yang ingin mencapai tujuannya dengan cara menentang norma dan aturan hidup bersama alias menghalalkan berbagai cara,” ujarnya.

Gus Ishom menegaskan, bahwa pemimpin yang diharapkan rakyat bukanlah orang yang pandai menebar seribu janji, tetapi yang bisa menunjukkan bukti nyata bahwa kebijakan politiknya itu untuk kemaslahatan seluruh rakyatnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)