Pesantren Ajarkan Keseimbangan Mentalitas

Yogyakarta, Nilai keseimbangan pada dasarnya telah diajarkan di pesantren. Santri dididik kiainya untuk selalu seimbang. Baik dari cara berpikir maupun perilaku. Pola hidup yang sederhana mencerminkan hal itu. Namun, terkadang ciri khas Pesantren yang mengedepankan mentalitas seimbang itu jarang kita sadari.

Demikian ungkap KH Jazilus Sakhok, PhD yang akrab disapa Gus Sakhok saat menyampaikan makalahnya dalam Workshop ‘Pesantren For Peace’ di Hotel Novotel, Yogyakarta, Jum’at (22/05). Acara ini diselenggarakan oleh Center for The Study of Religion an Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Pesantren Pandanaran, Yogyakarta.

Sebenarnya, masalah-masalah yang timbul di masyarakat kita itu cenderung disebabkan adanya ketidakseimbangan. Ketika yang besar mengkooptasi yang kecil, dan yang kecil mencoba menjatuhkan yang besar. Padahal, manusia itu sebenarnya diciptakan menjadi khalifah Allah SWT di bumi yang mengemban amanat fitroh kemanusiaan untuk menjaga keseimbangan tata kosmos alam ini.

“Contoh sederhana, dalam ajaran kita terdapat perintah untuk tidak boleh isrof (berlebihan), tidak boleh dzolim, dan lain sebagainya, itu semua kan mencirikan nilai-nilai keseimbangan (tawasuth),” kata Gus Sakhok.

Menurutnya, Hak Asasi Manusia (HAM) itu sebenarnya selaras dengan Kuliyatul Khoms. HAM itu, sebenarya bagaimana hak asasi itu seimbang. Hak asasi yang tidak boleh dilanggar. Namun, persoalan yang terjadi kemudian adalah banyak sekali aturan HAM yang dilanggar.

Dia mengatakan, bahwa beragamnya persoalaan yang terjadi terkait pelanggaran HAM, sebenarnya yang perlu diperhatikan adalah mentalitas masyarakat, bukan sederet aturan yang menjadi pakem. Jadi, baik penegakan HAM maupun resolusi konflik secara damai, itu sebenarnya terletak pada persoalan mentalitas.

“Meskipun aturan yang luar biasa telah di buat, tapi mentalnya tidak mengena, nilainya kurang diresapi, hanya sebatas aturan dan hanya tau tentang HAM, tetapi secara mentalitas tidak punya kesadaran etos kosmos, maka tetap saja akan banyak yang akan melakukan pelanggaran-pelanggaran,” paparnya.

Karena itulah, imbuhnya, semangat pesantren yang mempunyai tata nilai tawasuth, tawazun, tasammuh, i’tidal ini harus diaplikasikan sebagai semangat untuk membangun sebuah paradigma di zaman yang selalu berubah. Di situlah posisi penting pesantren. (Anwar Kurniawan/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: