PMII UT Bojonegoro Pacu Mahasiswa Jadi Pengusaha

Bojonegoro, Setelah proses pemilihan berlangsung beberapa waktu lalu, Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Terbuka (UT) Bojonegoro resmi dilantik, Kamis (24/12/2015). Pengukuhan di Aula Kampus 2 PBI UT Bojonegoro itu juga dirangkai dengan seminar kewirausahaan.

Setidaknya ada sekitar 70 mahasiwa dari UT dan dari kampus lain di Kabupaten Bojonegoro yang terlibat dalam seminar tersebut. Sesuai tema pelantikan, seminar mengangkat tema “Membentuk Mahasiswa yang Aktif Dan Produktif dengan Menumbuhkan Karakter Entrepreneur”.

Ketua PK PMII UT Bojonegoro yang baru dilantik, Ika Arlina Safitri mengaku, PMII merupakan Organisasi Ekstra Kampus (Omek) yang mewadahi mahasiswa. Bagi mereka yang menginginkan pembelajaran lebih yang tidak di dapat di kampus.

“PMII bisa disebut second campus (kampus kedua), hal ini tidak lepas dari apa yang menjadi tujuan PMII,” ujar mahasiswi semester 5 UT Bojonegoro itu.

Sementara itu Ketua PC PMII Bojonegoro Ahmad Dhilli Nasrulloh menjelaskan, PMII memberi wahana tidak hanya akademik namun juga ilmu lain yang tidak didapat di kampus. Hal ini dibuktikan dari seminar yang dilakukan PK PMII UT yang membahas tentang kewirausahaan.

Para peserta seminar yang mayoritas dari mahasiswa pendidikan guru diharapkan bisa menjadi pengusaha. “Diharapkan tidak hanya menjadi guru saja, tetapi memunculkan pengusaha baru ke depannya,” ungkap lulusan STIE Cendekia Bojonegoro itu.

Hadir pula dalam seminar tersebut, sebagai narasumber yakni Moh. Mustofa dan Samsul Hadi. Banyak hal yang disampai kedua pemateri itu, termasuk kiat-kiat sukses menjadi seorang pengusaha.

“Indonesia sangat butuh pengusaha, karena rata-rata orang kaya itu muncul dari para pengusaha,” terangnya kepada seluruh peserta seminar.

Hal senada juga disampaikan Samsul Hadi. Dalam materi yang disampaikan, rata-rata mahasiswa hari ini masih sering mengharapkan jadi pegawai, padahal mereka bisa juga menjadi bos.

“Bahwasanya setiap apa yang ada di dunia ini memiliki nilai jual, tak terkecuali sampah. Barang yang banyak orang menilai tidak ada nilainya, tetapi yang terpenting adalah bagaimana usaha kita membuat suatu itu lebih berharga,” pungkas pengusaha sampah dari Bojonegoro itu. (M. Yazid/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)