PMII Ya’qub Husein Jombang Kaji Islam Nusantara

Jombang, Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ya’qub Husein Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) al-Urwatul Wutsqo, Jombang, Jawa Timur rutin menggelar kajian ilmiah bersama anggota, PK dan pengurus cabang (PC) PMII Jombang sebagai instruktur. Kegiatan ini dilaksanakan dua kali dalam satu pekan di aula kantor Komisariat PMII setempat.

Kali ini PMII Ya’qub Husein membahas Islam Nusantara sebagai bahan kajian penting untuk dibahas. Mengingat adanya beberapa pandangan yang berseberangan antara menolak dan menerima Islam Nusantara. Diskusi kali ini diikuti kurang lebih dari 20 pengurus dan anggota.

Rif’atuz Zuhro, Ketua Komisariat Ya’qub Husein mengatakan, dalam pembahasan Islam Nusantara bukan sebuah ajaran dan term baru, dan bukan pula sebuah ajaran yang menyebabkan Islam seolah terpetakkan antara Islam di Indonesia dan Islam di negara-negara lain. “Munculnya istilah Islam Nusantara sebenarnya bukan berarti membuat ajaran Islam seakan terpetakkan antara ajaran Islam Indonesia dan di tempat yang lain,” ujarnya di sela-sela diskusi berlangsung, Senin (21/12).

Ririf, sapaan akrabnya menambahkan bahwa istilah Islam Nusantara lebih ditekankan pada hasil kreasi akal manusia khususnya yang berupa budaya-budaya di Indonesia. Budaya tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan tidak pula membuat sekte-sekte baru dalam Islam. “Dalam term Islam Nusantara tidak ada tujuan anti dan benci dengan berbagai budaya Islam di negara manapun,” tambahnya.

Lebih jauh A Syamsul Arifin, Pengurus Cabang PMII Jombang mengungkapkan Islam Nusantara berlandaskan pada budaya-budaya umat Islam di Indonesia di tempat  mereka tingga. “umat Islam yang berada di Indonesia tidak lepas dengan budaya di tempat mereka tinggal, itu yang menjadi landasan munculnya konsep dan istilah Islam Nusantara,” tandasnya.

Di samping itu ia menjelaskan, bahwa Islam Nusantara adalah sebuah pemahaman dan aplikasi ajaran Islam dalam tataran fiqih mu’amalah sebagai hasil dialektika antara nash, syariat dan sebuah budaya di bumi nusantara. 

Menurutnya, hasil kreasi budaya umat Islam baik di Indonesia atau di negara lain memang terdorong dalam hukum ijtihadiyah, dimana akal manusia mampu berkreasi dengan sendirinya melalui dialetika berbagai budaya dan interaksi dengan sesama. (Red: Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)