Ponpes Nurul Hidayah Jrebeng Adopsi Sistem Pembelajaran Sidogiri

PROBOLINGGO – Keberadaan Pesantren Assuniyah Nurul Hidayah di Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, memang tidak bisa dipisahkan dari Pesantren Sidogiri, Kraton Kabupaten Pasuruan. Pengasuh dan pendiri serta anak-anaknya merupakan alumni pesantren tersebut. Tidak heran bila semua aktivitas yang ada di pesantren ini hampir sama dengan Pesantren Sidogiri.

Seperti pembelajarannya yang tidak ada pendidikan formal atau murni salafiyah. Tentu dengan keadaan seperti sekarang menjadi tantangan bagi pengasuh pesantren. Sebab hampir seluruh pesantren yang tidak menyediakan pendidikan formal dipastikan sepi santri, bahkan cenderung mundur.

Namun tidak untuk pesantren ini, sejak 12 tahun berdiri santrinya terus bertambah. Bahkan jumlahnya secara keseluruhan sudah mencapai 300-an santri. “Pengasuh belum mengizinkan untuk mendirikan pendidikan formal. Cukup dengan pendidikan dasar dan ujian paket saja,” ungkap salah satu guru, Miftahur Romli, Jumat (3/4).

Pendidikan dasar atau yang biasa disebut dengan Dikdas itu merupakan program pemerintah yang terdapat pada pesantren. Kegiatannya hanya dilakukan sekali dalam seminggu. Ada beberapa pelajaran yang menjadikan prioritas. Salah satunya santri harus bisa membaca kitab kuning.

“Unggulan dari pesantren ini adalah pelajaran kitab kuning. Tetapi untuk pelajaran seperti madrasah diniyah lainnya tetap diberikan. Namun yang menjadi prioritas utama adalah santri harus bisa membaca kitab kuning,” jelasnya.

Pemberian materi belajar kitab kuning itu diberikan setiap hari. Karena rutinitas itulah, santri yang ada di pesantren ini bisa berprestasi di dalam maupun luar Kota Probolinggo. “Baru kemarin kami mendapatkan juara baca kitab kuning, kaligrafi dan lomba lainnya. Alhamdulillah secara perlahan kami juga berbenah,” terangnya.

Tidak hanya soal pelajaran, santri pesantren ini juga hampir sama dengan aktivitas pengasuhnya. Yakni, sholat tahajjud dan dhuha bersama. Aktivitas seperti ini seakan menjadi kewajiban bagi santri untuk menumbuhkan rasa kedisiplinan dalam menjalankan perintah agama. “Kalau misalkan tidak berjamaah, sudah pasti ada sanksi,” tegasnya.

Berkaitan dengan makan para santri, pihak pengasuh membebaskan seluruh pembiayaan santri yang berasal dari Lumajang, Jember dan Madura. “Kalau dihitung dua bulan, dapat sepeda motor baru. Tapi ikhlas demi mencetak santri yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: