PWNU Jabar Bela Bupati Purwakarta soal Tudingan Penistaan Agama

Jakarta, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat mendukung kiprah Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang banyak menggunakan strategi budaya di tengah gugata penistaan agama ke polisi oleh sekelompok ormas Islam yang tak sepaham. Hal tersebut mestinya dilihat dalam kerangka strategi kebudayaan.

“Saya kira kita perlu melihat sisi esensial dari pemikiran Kang Dedi. Ia menjunjung falsafat nilai-nilai Sunda yang selaras dengan nilai-nilai keislaman. Ini yang disebut etichal-virtue, atau keutamaan moral, akhlakul karimah, bukan kemusyrikan atau syirik. Selain melihat luarnya, lihat pula esensinya. Semua akan jadi ringan dan eksotik dalam melihat kiprah masyarakat,” ujar Wakil Ketua PWNU Jabar Kiagus Zaenal Mubarok dalam siaran pers, Rabu (9/12).

Menurutnya, apa yang dilakukan Bupati Purwakarta bukan dalam rangka menyundakan Islam. Sebagai bupati, imbuhnya, Dedi unik karena punya inisiatif keluar dari pakem-pakem kerja birokat dan memilih jalan kerja budaya sebagai bagian hidupnya.

“Ini  sama dengan apa yang dilakukan pendahulu-pendahulu NU, atau mirip yang dilakukan KH. Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) Magelang yang sering memobilisasi kegiatan kesenian untuk penananam nilai-nilai keislaman. Di Magelang Gus Yusuf tidak pernah dituduh kejawen. Beliau santri tulen dan hanya menjadikan kebudayaan sebagai medium. Tidak lebih tidak kurang,” lanjut Kiagus.

PWNU Jawa Barat, imbunya, mendorong Kang Dedi untuk terus melanjutkan kerja budayanya. Tentu kita pun akan selalu memberi masukan dan kritik. Saling berbagi pengetahuan dan saling menasihati itu lebih baik ketimbang saling menebarkan amarah.

“Bagi saya, sosok muda dan energik seperti Kang Dedi Mulyadi, terlepas dari kekurangannya, harus didorong untuk semakin baik karena ia punya inisiatif memikirkan kebaikan-kebaikan untuk warga. Cobalah cari, apa ada bupati di Jawa barat ini yang memikirkan kebudayaan dan bisa panjang lebar bicara filsafat, budaya dan agama? Saya fair. Bukan membela membabi buta, tapi membela secara proporsional. Selain itu kami juga sering memberi masukan dan mengkritik agar kiprah tokoh-tokoh NU semakin maju dalam percaturan kehidupan sosial-budaya,” kata Kiagus.

Seperti diberitakan sejumlah media, Majelis Dakwah Manhajus Solihin Purwakarta didampingi pemimpin Dewan Pimpinan Daerah Front Pembela Islam Jawa Barat melaporkan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ke Kepolisian Daerah Jawa Barat, akhir November lalu. Dedi dilaporkan dengan tuduhan telah melakukan penistaan agama Islam yang dituliskan dalam sejumlah buku dan rekaman audio visual.

Gugatan tersebut menyusul setelah pernyataan kontroversial Habib Rizieq Shihab yang memplesetkan salam orang Sunda “Sampurasun” menjadi “Campur Racun”. Pernyataan tersebut mendapat reaksi keras dan gugatan dari sejumlah komunitas Sunda. Plesetan itu muncul lantaran FPI geram terhadap kebijakan budaya Dedi, seperti membuat patung dan sebagainya, yang dinilai melenceng dari ajaran Islam. (Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)