PWNU Sumatera Utara Ajak Muktamirin Jaga Etika Bermusyawarah

Jombang, Salah satu Syuriyah PWNU Sumatera Utara, Maraembang Daulay, berharap Muktamar Ke-33 NU yang berlangsung di Jombang berjalan tanpa hambatan. Ia mengajak para muktamirin menjaga etika bermusyawarah. Juga tidak memunculkan aneka kalimat yang mengindikasikan fitnah dan tuduhan.

“Karena itu akan menimbulkan kesan buruk muktamar ini. Kami menghimbau masing-masing cabang dan wilayah memberi arahan kepada juru bicaranya untuk memberi tanggapan sepantasnya saja, nggak usah mengomentari hal-hal yang tidak perlu,” ujarnya kepada NU Online di luar arena sidang pleno, Ahad (2/8) malam.

Pertentangan tajam, lanjut Daulay, sedapat mungkin dihindari. Menurut dia, masih banyak peserta yang tetap mampu menahan diri untuk tidak memperturutkan emosi sesaat.

“Yang suka bicara keras seperti itu hanya beberapa gelintir kok. Masih banyak yang lembut dan sadar sebagai anggota ormas yang dipimpin para ulama. Kami kira biasa saja perbedaan pendapat itu. Nggak usah dibesar-besarkan,” tegasnya.

Artinya NU jangan menjadi contoh yang kurang baik. Menjaga emosinalnya agar tidak warga NU. Harusnya memberi contoh. Mereka secara santun saya yakin, di sini kan banyak ulama. Saya pikir, PWNU Sumut kompak,” ungkapnya.

Senada dengan PWNU Sumut, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Labuhan Batu Zuhri Anhal mengatakan, penyelenggaraan muktamar di Jombang sejatinya ingin mengembalikan ruh NU seperti awal didirikan. Muktamirin harus paham niat tersebut. 

“Di sini kan maunya mengangkat harkat dan martabat ulama. Jadi, saya kira sesama warga NU pahamlah tradisinya,” kata Zuhri.

Di menit-menit terakhir sebelum sidang pleno diskors, PWNU Sumut menawarkan pasal 19 tentang pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dibahas di sidang komisi organisasi. “Supaya jadwal bisa berjalan. Toh nantinya akan diplenokan lagi,” tandas Zuhri. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)