Qoriah Internasional Ajak Hiasi Qur’an dengan Suara Indah

Sidoarjo, NU Online 
Hiasi Al-Qur’an dengan suara yang indah, sehingga orang lain yang mendengarkannya menjadi terenyuh dan enak jika didengarkan. 

Hal ini disampaikan oleh Purek II Institut ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta HJ Maria Ulfah saat mengisi pengajian Ramadhan 1436 H di masjid Agung Sidoarjo, Ahad (28/6) bertajuk “Khazanah Tilawah Al-Qur’an”.

Menurut Ulfah yang merupakan qoriah internasional ini, ada 7 makom dasar lagu yang digunakan oleh Qori’/Qoriah ketika membaca Al-Qur’an. ” 7 lagu itu yakni bikhusrin jasan (Bayyati, Shaba, Hijaz, Rast, Sikah, Jiharkah dan Nahawand). Tapi sekarang sudah berkembang sampai ratusan,” kata Ulfah.

Ketujuh makom Itu berasal dari Teluk Persia, Iran, Irak dan sekitarnya lalu diadopsi oleh Mesir. “Padahal itu dari Persia. Terkecuali Hijaz, karena Hijaz itu dari Arab,” imbuhnya.

Diceritakan Ulfa, membaca Al-Qur’an menggunakan langgam Jawa, itu merupakan pengaruh budaya lokal dan sudah ada sejak jaman Wali Songo. Dan setiap daerah itu mempunyai budaya masing-masing, hampir sama tapi mirip-mirip. Namun, susah jika dimasuki lagu Arab.

“Kalau kita menengok sejarah Wali Songo. Misal di Jawa Timur ada Sunan Ampel dan Sunan Giri hingga wali sembilan. Serta kita lihat kalau dari sejarah, para seniman mulai dari gaya masjid, arsitekturnya menggunakan juglu, itu adalah pengaruh budaya lokal,” jelasnya sembari menceritakan masa Wali Songo.

Sampai membaca Al-Qur’an pun, lanjut Ulfa, Wali Songo yang berasal dari Arab, mungkin kesulitan memberikan contohnya. “Kalau kita kenal lagu di Jawa, pada waktu itu Wali Songo menghargai kearifan lokal, tidak ada nas yang melarang dan orang Arab tidak pernah mendengar lagu seperti itu (langgam Jawa),” ungkapnya.

Ulfah menambahkan, pihaknya tetap menghargai daerah-daerah yang menggunakan lagu langgam Jawa. Yang penting tetap memegang teguh tajwidnya.

“JQH NU mengambil jalan tengah, jadi hukum membaca Al-Qur’an menggunakan langgam Jawa itu boleh (mubah). Bahkan orang yang belajar dari daerahnya tidak apa-apa,” pungkas wanita yang juga menjadi Majelis ilmi Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurr’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama ini. (Moh Kholidun/Mukafi Niam)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: